IHSG Hadapi Tekanan Sentimen Geopolitik Global dan Evaluasi S&P Dow Jones

Share

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibayangi oleh peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan peringatan dari S&P Dow Jones Indices pada perdagangan Rabu (8/7/2026), dilansir dari Bloombergtechnoz.

Kekhawatiran pasar dipicu oleh serangan baru militer Amerika Serikat di wilayah Iran serta insiden terhadap kapal tanker di Selat Hormuz yang berisiko mengeskalasi konflik antar kedua negara tersebut.

Perkembangan situasi di Selat Hormuz tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) hingga melewati level US$72 per barel, yang memicu kekhawatiran inflasi masa depan dan menekan bursa saham Asia.

Meskipun sentimen global cenderung melemah, pergerakan indeks domestik dinilai masih memiliki peluang penguatan berdasarkan indikator teknikal.

"Penembusan level 6.000 akan menjadi konfirmasi awal berlanjutnya momentum rebound," kata Reza Diofanda, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas.

Reza menetapkan titik suport bagi IHSG berada di level 7.734 dengan resistance psikologis pada tingkat 6.000.

"Posisi IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji area 6.083 hingga 6.203," kata Herditya Wicaksana, Analis Teknikal MNC Sekuritas.

Menurut Herditya, tren penguatan indeks saat ini masih mendapatkan topangan dari volume pembelian yang meningkat serta keberhasilan melewati level MA20.

Selain faktor Timur Tengah, psikologi pasar juga dipengaruhi oleh langkah S&P Dow Jones Indices yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantauan reklasifikasi pasar tahun 2027 bersama Turki dan Nigeria.

"Apabila kondisi memburuk, S&P DJI dapat mempertimbangkan untuk menerapkan perlakuan khusus (special measures) terhadap saham-saham Indonesia," dikutip dari pengumuman resmi S&P DJI, Rabu (8/7/2026).

Penyedia indeks global tersebut saat ini sedang memantau transparansi kepemilikan saham dengan mengacu pada panduan baru dari Bursa Efek Indonesia guna mengatasi isu keterbukaan informasi dan likuiditas.

"Apabila berbagai persoalan tersebut masih belum terselesaikan dalam waktu satu tahun kalender sejak special measures mulai diberlakukan, maka klasifikasi pasar Indonesia akan dievaluasi kembali dalam tinjauan tahunan berikutnya," dikutip dari keterangan yang sama.

Kondisi pasar modal Indonesia ini juga dipengaruhi oleh kebijakan MSCI Inc yang telah membekukan saham Indonesia dalam review indeks pada Agustus 2026.

"Ruang rerating tetap terbatas karena investor asing berbasis indeks belum punya alasan kuat untuk menambah eksposur sebelum ada kejelasan November," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Liza memproyeksikan minat investor asing berbasis indeks masih minim hingga akhir tahun, di mana penyusutan nilai transaksi saat ini mencerminkan rendahnya keyakinan pasar terhadap penguatan IHSG.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author