Gelombang Pasas Ekstrem di Prancis Picu Keributan Akibat Rebutan AC Murah

Share

Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis memicu lonjakan permintaan alat pendingin ruangan secara drastis. Warga berbondong-bondong memadati berbagai pusat perbelanjaan demi mengantisipasi kenaikan suhu udara yang terus melonjak. Kondisi ini memicu antrean panjang hingga keributan di sejumlah supermarket akibat terbatasnya stok AC murah.

Seperti dikutip dari Detik Health, aparat kepolisian bahkan harus turun tangan di minimal dua gerai untuk mengamankan situasi dari aksi saling serobot. Ratusan orang dilaporkan memadati gerai ritel di Paris dan wilayah sekitarnya demi mendapatkan unit AC yang dijual mulai harga 179 euro. Nominal tersebut jauh lebih terjangkau dibandingkan harga pasaran normal yang dapat menembus lebih dari 1.200 euro.

Cuaca ekstrem ini tercatat sebagai salah satu gelombang panas terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Dampaknya meluas mulai dari peningkatan angka kematian, penutupan sekolah, pembatalan festival musik, hingga membuat fasilitas rumah sakit kewalahan menerima pasien.

Paparan suhu tinggi dalam durasi yang lama membawa risiko fatal bagi tubuh manusia. Kondisi ini sangat berbahaya bagi kelompok rentan seperti warga lanjut usia, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan riwayat penyakit kronis. Suhu udara yang melonjak tinggi berpotensi memicu dehidrasi berat, kelelahan akibat panas atau heat exhaustion, hingga sengatan panas atau heat stroke. Serangan heat stroke merupakan kegawatdaruratan medis yang dapat merusak organ tubuh dan menyebabkan kematian.

Potensi bahaya kesehatan inilah yang mendorong warga Prancis bergegas mengamankan alat pendingin. Otoritas cuaca setempat memprediksi gelombang panas susulan akan kembali menerjang pada akhir pekan.

Perubahan Tren Penggunaan AC

Mayoritas hunian dan fasilitas pendidikan di Prancis awalnya tidak memiliki perangkat pendingin ruangan karena musim panas biasanya berlangsung relatif sejuk. Namun, perubahan iklim global membuat intensitas dan durasi gelombang panas kini terjadi lebih sering. Penggunaan AC di negara tersebut sebenarnya masih memicu perdebatan di masyarakat.

Berdasarkan data survei, sekitar 80 persen warga memandang AC sebagai perangkat yang tidak ramah lingkungan karena konsumsi energinya yang sangat tinggi. Kendati demikian, sudut pandang tersebut mulai bergeser seiring tuntutan perlindungan diri dari cuaca ekstrem. Jaringan hipermarket mencatat penjualan hingga 30 ribu unit AC dalam satu hari saat puncak gelombang panas pada akhir Juni lalu.

Berdasarkan data badan lingkungan Prancis, tingkat kepemilikan AC pada sektor rumah tangga mengalami kenaikan dari 18 persen pada 2023 menjadi 24 persen pada 2025. Perubahan angka ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan riil masyarakat untuk memitigasi dampak kesehatan dari cuaca panas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author