NATO Siapkan Proyek Militer Miliaran Dolar untuk Redam Kemarahan Donald Trump

Share

Aliansi NATO bersiap memamerkan serangkaian proyek militer baru bernilai miliaran dolar untuk meyakinkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Langkah ini diambil setelah Trump mendesak sekutu Eropa meningkatkan pengeluaran pertahanan mereka.

Dilansir dari Detikcom, pertemuan puncak selama dua hari tersebut berlangsung di kompleks istana kepresidenan Presiden Recep Tayyip Erdogan di Ankara, Turki. Konferensi ini diadakan setahun setelah anggota NATO berjanji menaikkan belanja militer menjadi 5% dari PDB.

Sebelum KTT dimulai, Donald Trump dikabarkan murka karena sikap negara-negara Eropa yang tidak memberikan bantuan kepada AS dalam serangan terhadap Iran.

Beberapa pemimpin Eropa dijadwalkan mengumumkan proyek belanja persenjataan besar-besaran dari perusahaan AS dalam forum industri menjelang agenda KTT utama. Langkah tersebut dinilai krusial mengingat Trump sebelumnya mencap NATO sebagai macan kertas yang tidak berfungsi tanpa persenjataan AS.

Donald Trump dilaporkan berangkat dari Washington bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menghadiri pertemuan tersebut.

"Kami akan mengumumkan puluhan miliar kontrak baru yang akan menyediakan perlengkapan krusial yang dibutuhkan untuk menangani pencegahan dan pertahanan," kata Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte kepada para wartawan pada malam menjelang KTT aliansi militer tersebut, dikutip dari Reuters.

Mark Rutte menegaskan bahwa negara-negara Eropa telah memenuhi janji mereka dengan memperkuat anggaran militer. Hal ini ditujukan untuk mengambil tanggung jawab lebih besar atas pertahanan benua dalam menghadapi Rusia.

"Hanya satu tahun kemudian, kita sudah melihat kemajuan transformasional," tambahnya.

Gebrakan industri pertahanan ini muncul beberapa minggu setelah Mark Rutte mengajukan grafik bertuliskan "The Trump Trillion". Grafik tersebut menunjukkan pengeluaran sebesar 1,2 triliun dolar oleh sekutu Eropa dan Kanada sejak 2017.

Namun, Donald Trump menyatakan masih kecewa atas penolakan beberapa sekutu NATO untuk bergabung dalam perang Iran yang diluncurkan bersama Israel tanpa konsultasi.

"Konyol bagi AS untuk terus menyusuri jalan sepihak ini ketika hubungan ini tidak saling menguntungkan. Mereka tidak ada untuk kita!!!" tulis Trump melalui platform Truth Social pekan lalu.

Dalam kesempatan lain, Donald Trump juga menegaskan posisinya mengenai relasi antarnegara anggota tersebut.

"Kami tidak butuh uang mereka, kami tidak butuh apa pun. Saya hanya ingin loyalitas," ujar Trump.

Para diplomat kini mengandalkan hubungan baik Trump dengan Erdogan serta pesona diplomasi dari Mark Rutte untuk menjaga suasana tetap terkendali. Potensi gesekan tetap ada mengingat Trump baru-baru ini berselisih dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

Demi menunjukkan iktikad baik, sekutu Eropa yang dipelopori Prancis dan Inggris telah menyiapkan potensi misi angkatan laut di Selat Hormuz. Beberapa negara bahkan telah menggeser kapal militer mereka lebih dekat ke wilayah tersebut.

Namun, pihak Eropa masih menginginkan kejelasan tentang perkembangan kesepakatan AS dengan Iran sebelum mengirimkan pasukan secara penuh. Di sisi lain, Washington mengumumkan pemotongan aset yang disediakan untuk komandan NATO.

Peremajaan Armada Intai dan Kapal Selam Baru

Kontrak yang akan diungkap dalam pertemuan ini diperkirakan mencakup penggantian armada pesawat pengintai NATO yang sudah menua. Organisasi NATO tidak memiliki persenjataan sendiri, tetapi mempunyai armada pesawat AWACS berusia sekitar 50 tahun dan beberapa drone pengintai baru.

Kanada juga mengumumkan telah memilih Thyssenkrupp Marine Systems asal Jerman untuk membangun armada kapal selam barunya. Program bernilai miliaran dolar ini menjadi bagian dari upaya memperdalam hubungan pertahanan dengan sekutu NATO di Eropa.

Beberapa proyek lainnya akan dibayar dengan sistem pinjaman murah untuk tujuan pertahanan yang dibentuk oleh Uni Eropa melalui pasar modal.

"Kita perlu memastikan bahwa kita menerjemahkan kekuatan ekonomi kita menjadi kapabilitas militer, memanfaatkan uang tunai dari rencana pertahanan hingga drone, dari uang hingga rudal dan pencegat," ujar Rutte.

Dia menambahkan mengenai perkembangan visi pertahanan aliansi tersebut.

"Semua ini adalah bukti perubahan nyata dalam pola pikir. Ini adalah NATO 3.0. Eropa yang lebih kuat dalam NATO yang lebih kuat," tambahnya.

Netanyahu Tolak Penjualan Jet F-35 ke Turki

Di sela-sela persiapan KTT, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menentang rencana penjualan jet tempur ke Turki. Netanyahu mendesak AS untuk tidak menjual jet tempur F-35 ke Turki dengan alasan Erdogan menyerukan pemusnahan Israel secara terbuka.

Hubungan Turki dan Israel saat ini sangat sengit karena Erdogan sering menuduh Israel melakukan genosida dalam perang di Gaza. Konflik tersebut dipicu oleh serangan mematikan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan.

Turki sendiri telah dilarang dari program F-35 pada tahun 2019 setelah membeli sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia. Namun, Trump mengisyaratkan penjualan tersebut bisa segera dilanjutkan menjelang kunjungannya ke Ankara.

Netanyahu menegaskan dampak buruk jika penjualan pesawat tempur tersebut tetap direalisasikan oleh Amerika Serikat.

"Mengganggu keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, yang pada akhirnya dijamin oleh keunggulan udara Israel dan juga, saya kira, oleh kehadiran Amerika di Timur Tengah," tegas Netanyahu.

Angkatan Udara Israel sendiri sejauh ini sangat bergantung pada ratusan jet tempur AS, termasuk varian F-35, F-16, dan F-15.

Visi NATO 3.0 dan Beban Keamanan Eropa

Pemerintahan Trump telah memperingatkan para sekutu agar menangani keamanan Eropa secara mandiri karena AS akan berfokus pada kawasan Indo-Pasifik dan Cina. Pentagon menginginkan visi "NATO 3.0" di mana Eropa memikul tanggung jawab lebih besar atas pertahanannya.

Namun, menaikkan pengeluaran pertahanan memaksa negara anggota untuk menaikkan pajak atau mengalihkan anggaran dari sektor lain. Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengundurkan diri bulan lalu karena pemerintah tidak bersedia mengeluarkan dana tambahan.

Kekhawatiran juga meningkat di Eropa utara dan tengah-timur mengenai potensi Rusia mempersiapkan serangan hibrida. Taktik ini mengombinasikan perang konvensional dengan serangan siber di tengah konflik di Ukraina.

Sementara itu, kantor perdana menteri Inggris menyatakan akan tetap berfokus pada pembangunan NATO yang lebih kuat. Mantan PM Keir Starmer yang mundur pada 22 Juni 2026 selama ini menjadi jaminan partisipasi Inggris.

Pemerintahan Inggris berkomitmen membelanjakan 3,5% dari produk domestik bruto untuk pertahanan pada tahun 2035. Namun, rencana pengeluaran saat ini diperkirakan baru mencapai 2,7% dari PDB pada tahun 2029.

Eropa Ambil Alih Bantuan Ukraina

Negara-negara Eropa kini mengambil alih hampir seluruh dukungan untuk Ukraina seiring langkah Donald Trump memangkas bantuan dari AS. Presiden Volodymyr Zelensky dijadwalkan menghadiri makan malam para pemimpin di Ankara.

Zelensky akan mendapatkan komitmen dari para pendukung Eropa untuk menjaga aliran bantuan militer setidaknya 70 miliar euro setiap tahun pada 2026 dan 2027. Pemimpin Ukraina tersebut juga dijadwalkan mengadakan pembicaraan langsung dengan Trump.

Zelensky mendesak aliansi untuk mengambil keputusan tegas dalam meningkatkan pertahanan udara Ukraina setelah serangan kilat Rusia menewaskan hampir 30 orang. Dia berupaya meyakinkan Trump bahwa Kyiv berhasil membalikkan keadaan dalam perang agar Washington menekan Moskow kembali ke negosiasi perdamaian.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author