Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah Usai Tembus Level Rp18.000
Bank Indonesia (BI) mengintervensi pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) akibat sentimen kebijakan suku bunga Bank Sentral AS atau The Fed.
Dilansir dari Detik Finance, mata uang rupiah berada di posisi Rp17.992 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi, 7 Juli 2026, setelah sempat melemah ke level Rp18.009 secara intraday pada perdagangan sehari sebelumnya.
Pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) yang mempertahankan suku bunga federal funds di angka 3,5% hingga 3,75% sejak Juni lalu, disertai sinyal kelanjutan kenaikan suku bunga.
"Jadi, sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang, terutama tahun ini, yang memang probability-nya adalah tidak lagi turun tetapi akan naik," ujar Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).
Situasi tersebut memicu penguatan indeks dolar AS (DXY) dari level 95 pada Januari 2026 menjadi 101 pada akhir Juni, sehingga menekan mata uang dari berbagai negara berkembang.
"Jadi, kombinasi adalah signal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap US dollar," jelas Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia.
Menyikapi fluktuasi ini, Bank Indonesia memastikan kehadiran mengawal pasar selama 24 jam penuh di pasar domestik maupun internasional melalui instrumen spot dan Non-Deliverable Forward.
"Dengan transaksi di pasar spot, di pasar NDF (Non-Deliverable Forward), di pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) dan juga melakukan komunikasi yang intens dengan pelaku pasar. Oleh sebab itu kita bisa melihat bagaimana Rupiah perkembangannya relatively termasuk baik dibandingkan negara emerging market yang lain," beber Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia.
Otoritas moneter memproyeksikan pergerakan mata uang domestik akan berangsur pulih dan stabil melalui kolaborasi erat antarinstansi terkait dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
"Dan tentunya kita berharap ke depan Rupiah bisa stabil, akan mulai perlahan menguat terhadap USD. Oleh sebab itu tentunya sinergi dari berbagai bagian pihak itu sangat diperlukan untuk sama-sama membawa Rupiah kita menguat terhadap USD," jelas Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia.