Studi Ungkap Pola Asuh Agresif Mengubah Respons Stres Anak
Pola asuh yang diterapkan orang tua terbukti memengaruhi kondisi psikologis anak secara mendalam, termasuk dalam hal mengelola tekanan emosional. Dilansir dari HaiBunda, hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang agresif dapat mengubah kemampuan alami anak dalam menghadapi dan mengelola stres.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Child Development ini menyelidiki teori 'ko-regulasi'. Teori tersebut menyatakan bahwa kondisi fisiologis orang tua yang tenang memiliki peran penting dalam membantu menabilkan sistem saraf anak mereka.
Para peneliti melacak pasangan ibu dan anak selama periode satu tahun menggunakan monitor detak jantung serta pernapasan. Penelitian ini dipimpin oleh mahasiswa doktoral Jianing Sun dan Profesor Psikologi Erika Lunkenheimer.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengaruh biologis orang tua secara alami akan menurun ketika anak mulai belajar mengatur dirinya sendiri. Namun, pola pengasuhan yang keras secara fisik maupun psikologis justru dapat membalikkan proses alami tersebut.
Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh agresif, seperti sering dipukul atau dibentak, menunjukkan disregulasi fisiologis yang lebih besar. Kondisi ini membuat respons stres mereka menjadi kaku dan memaksa anak menjadi lebih bergantung pada pengaturan eksternal seiring bertambahnya usia.
Melalui teori ko-regulasi, keadaan orang tua yang lebih tenang dan terkendali memungkinkan anak untuk mengatur respons tubuh mereka dengan lebih baik saat menghadapi tekanan. Proses pengaturan bersama ini idealnya menjadi lebih seimbang seiring bertambahnya usia anak.
"Anak-anak kecil bergantung pada respons orang tua mereka bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk mempelajari ritme yang tepat dalam mengatur kondisi fisik dan emosional," kata Lunkenheimer.
"Menurut teori, respons orang tua yang sensitif dan konsisten menumbuhkan rasa aman dan nyaman, sehingga sistem saraf anak dapat tenang. Di luar perilaku pengasuhan, penelitian kami menunjukkan bahwa kondisi fisik orang tua yang lebih tenang dan terkendali saat mengasuh anak juga memainkan peran kunci, meletakkan dasar tentang bagaimana anak-anak mengatur stres dalam tubuh dari waktu ke waktu."
Faktor Risiko dan Pengamatan Fisiologis
Erika Lunkenheimer menjelaskan bahwa seorang ibu berisiko menerapkan pola asuh yang keras jika mereka pernah mengalami perlakuan serupa saat kecil. Risiko ini semakin meningkat ketika mereka menghadapi pemicu stres seperti masalah keuangan, konflik keluarga, tantangan pengasuhan, atau gangguan kesehatan mental.
"Kami menemukan bahwa ibu-ibu dengan risiko lebih rendah dan tidak terlalu keras mampu mengatur fisiologi anak-anak mereka yang masih kecil selama interaksi, dan pengaruh ibu melemah seiring perkembangan anak seiring bertambahnya usia," kata Jianing Sun.
"Namun, pola sebaliknya ditemukan pada ibu yang lebih keras, yang menunjukkan peningkatan regulasi eksternal terhadap fisiologi stres anak-anak. Tak hanya itu, anak-anak juga menunjukkan lebih banyak kesulitan regulasi fisiologis seiring bertambahnya usia, yang mencerminkan risiko lebih besar untuk mengembangkan masalah regulasi," lanjutnya.
Dalam penelitian ini, tim ahli mengamati 129 pasangan ibu dan anak sebanyak dua kali, yaitu saat anak berusia tiga tahun dan empat tahun. Para ibu diminta mengisi kuesioner mengenai perilaku pengasuhan mereka, termasuk frekuensi berteriak atau menggunakan hukuman fisik.
Saat observasi, anak-anak diminta menyelesaikan tugas teka-teki yang menantang. Ibu mereka diizinkan memberikan arahan verbal, tetapi dilarang membantu menyelesaikan teka-teki tersebut secara langsung.
Selama proses pengujian, monitor jantung dan pernapasan digunakan untuk melacak aritmia sinus pernapasan (RSA). Parameter ini mengukur bagaimana detak jantung bervariasi seiring dengan ritme pernapasan.
"Kami menemukan bahwa RSA ibu dalam satu interval dapat memprediksi RSA anak pada interval berikutnya, yang memberikan bukti bahwa ibu dapat mengatur kondisi fisiologis anaknya," kata Sun.
"Kami juga menemukan pada ibu yang tidak terlalu keras, pengaruh ini berkurang seiring bertambahnya usia anak dari tiga menjadi empat tahun, yang menunjukkan bahwa anak kurang bergantung pada ibunya untuk pengaturan biologis ini. Namun, pengaruhnya meningkat pada ibu yang lebih keras dan anak-anak mereka."
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak yang diasuh dengan keras tidak mampu mengelola stres sebaik teman sebaya mereka. Akibatnya, mereka membutuhkan bantuan dari luar yang lebih besar untuk menenangkan diri seiring bertambahnya usia.
"Kami menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh keras juga menunjukkan inersia RSA yang lebih besar. Setelah dihadapkan pada tantangan, dibutuhkan waktu lebih lama bagi tingkat stres mereka yang tinggi untuk kembali ke tingkat normal," ungkap Lunkenheimer.
"Anak-anak ini mungkin tidak menerima masukan yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem pengaturan dengan benar, atau menjadi lebih kaku dan kurang responsif."