Rupiah Menguat Terbatas ke Posisi Rp17.982 per Dolar AS

Share

Rupiah mencatat penguatan terbatas sebesar 0,07 persen ke posisi Rp17.982 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (7/7/2026) seiring pergerakan positif mayoritas valuta asing di Asia.

Apresiasi mata uang regional ini dipicu oleh ekspektasi langkah dovish dari bank sentral AS, Federal Reserve, meskipun indeks dolar AS terpantau masih bertahan tinggi di level 100,95, dilansir dari Bloomberg Technoz. Won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,58 persen, diikuti oleh ringgit Malaysia, rupee India, peso Filipina, baht Thailand, yen Jepang, rupiah, dan dolar Hong Kong, sementara dolar Taiwan dan yuan China justru melemah.

Kendati mengalami penguatan hari ini, posisi rupiah dinilai belum sepenuhnya aman mengingat mata uang Garuda telah mengalami pelemahan bertahap sejak tahun 2021. Lembaga keuangan UBS menilai bahwa apresiasi ini bukan merupakan titik balik, melainkan hanya fase jeda sebelum rupiah melanjutkan tren depresiasinya.

Akar permasalahan dari pelemahan rupiah saat ini dinilai lebih banyak bersumber dari faktor domestik, seperti memburuknya neraca eksternal dan penurunan arus modal asing ke level terendah dalam hampir dua dekade. Investor global juga dilaporkan mengalami penurunan kepercayaan akibat ketidakpastian kebijakan, ditambah dengan menyempitnya sumber devisa Indonesia akibat perlambatan permintaan komoditas dari China.

Laporan UBS memproyeksikan rupiah masih berisiko melemah menuju kisaran Rp18.500 hingga Rp19.000 per dolar AS pada semester II-2026. Berdasarkan model analisis mereka, Indonesia memerlukan selisih suku bunga sekitar 4-4,5 persen terhadap AS untuk menstabilkan mata uangnya, seiring dengan pelebaran defisit transaksi berjalan yang mencapai sekitar 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Di sisi lain, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang berada di level 7,13 persen dianggap belum cukup menarik untuk mengompensasi risiko nilai tukar. Angka tersebut masih berada jauh di bawah yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bertenor 12 bulan yang mencapai 7,67 persen, sehingga investor diperkirakan baru akan kembali agresif jika yield SUN naik di atas 7,5 persen disertai dengan penegasan disiplin fiskal serta konsistensi kebijakan stabilitas.

"Normalisasi imbal hasil obligasi masih berpotensi terhambat oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi, sedangkan pelonggaran regulasi dan penyesuaian fiskal hanya memberikan dampak terbatas karena penghematan yang dihasilkan hanya sekitar 0,15-0,2% PDB, sementara defisit fiskal diperkirakan tetap berada di kisaran 3% PDB," sebut laporan UBS.

Meskipun demikian, posisi cadangan devisa Indonesia pada Juni tercatat sedikit membaik menjadi US$145,6 miliar dari posisi sebelumnya sebesar US$144,9 miliar. Peningkatan ini ditopang oleh penerimaan dari sektor pajak dan jasa di tengah komitmen pemerintah untuk menjaga defisit fiskal tetap berada di kisaran 3 persen PDB.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author