Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Bentuk Karakter Anak Cerdas

Share

Kecerdasan anak ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan dan pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua juga memegang peran penting.

Dikutip dari HaiBunda, berbagai penelitian membuktikan bahwa kebiasaan sederhana orang tua setiap hari berdampak besar pada perkembangan berpikir dan kecerdasan emosional anak. Melansir dari Your Tango, terdapat beberapa kebiasaan orang tua yang dapat menjadi indikator potensi kecerdasan anak.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan membatasi durasi anak dalam menonton televisi. Pakar bahasa bayi, Roberta Golinkoff, menjelaskan bahwa menonton TV dapat merusak kemampuan kognitif anak serta mengurangi waktu interaksi sosial.

"Bahasa sangat penting untuk pembelajaran anak-anak, dan bahasa yang mereka dapatkan dari televisi tidak disesuaikan dengan kebutuhan individu. Bahasa itu tidak akan menjawab pertanyaan atau mengikuti arahan mereka, padahal itulah cara kita menciptakan anak-anak yang cerdas," katanya.

Langkah kedua berkaitan dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) dalam jangka waktu yang lebih lama. Studi dalam jurnal JAMA Psychiatry tahun 2008 menunjukkan anak berusia enam tahun yang konsisten menerima ASI saat bayi meraih skor tes IQ lima persen lebih tinggi.

"Hal pertama yang dapat dilakukan seorang perempuan untuk membesarkan anak yang cerdas adalah menyusui," kata ahli genetika Ricki Lewis.

"ASI memiliki persentase lemak yang lebih tinggi daripada susu sapi, yang dibutuhkan untuk melindungi sel-sel otak kita yang melimpah."

Kebiasaan ketiga adalah mendorong anak untuk memainkan alat musik seperti piano atau instrumen gesek. Berdasarkan penelitian di jurnal PLoS ONE tahun 2008, aktivitas ini meningkatkan kemampuan verbal anak hingga 15 persen.

"Gagasan bahwa gen mengendalikan nasib kita disebut determinisme genetik. Kami para ahli genetika selalu menentang gagasan ini," ujar Lewis.

Membacakan buku untuk anak setiap hari juga menjadi kebiasaan krusial berikutnya. Penelitian tahun 2017 menyebutkan anak yang tumbuh di rumah dengan minimal 500 buku memiliki peluang kelulusan sekolah menengah 36 persen lebih tinggi.

"Keberhasilan di sekolah bukan hanya bergantung pada kecerdasan bawaan. Itu juga membutuhkan etos kerja yang baik," kata psikolog Eileen Kennedy-Moore.

"Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang kita lakukan dan kita katakan. Orang tua yang gemar membaca menunjukkan kepada anak-anak mereka bahwa membaca itu menarik, menyenangkan, dan bermanfaat," sambungnya.

Aktivitas Fisik dan Stimulasi Kognitif Lainnya

Orang tua yang aktif bergerak juga berpotensi menularkan gaya hidup sehat agar anak terhindar dari kelebihan berat badan. Massa tubuh yang lebih tinggi sering dikaitkan dengan prestasi akademik yang lebih rendah.

"Gaya hidup kurang gerak bisa meninggalkan dampak buruk yang sangat besar bagi anak-anak," kata Golinkoff.

"Jika mereka menonton TV atau bermain game komputer, mereka tidak berinteraksi, dan banyak hal yang bisa membuat kita 'pintar' adalah hal-hal yang hanya dipelajari dalam konteks interaksi sosial."

Faktor usia ayah saat memiliki momongan turut memengaruhi kecerdasan anak di masa depan. Riset menunjukkan anak dari ayah berusia 20 tahun memiliki skor IQ lebih tinggi dibandingkan mereka yang lahir dari ayah dengan usia dua kali lipat lebih tua.

"Usia ayah yang lanjut dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan perkembangan saraf seperti autisme dan skizofrenia, serta disleksia dan penurunan kecerdasan," tulis para peneliti dalam studi di PLoS Medicine tahun 2009.

"Anak-anak dari ayah yang lebih tua menunjukkan gangguan halus pada tes kemampuan neurokognitif."

Melatih anak bermain juggling juga dapat meningkatkan volume materi abu-abu di area perhatian visual otak hingga tiga persen. Keterampilan motorik yang sulit ini memicu perkembangan area frontal otak yang terkait dengan kemampuan kognitif umum.

Kebiasaan lain yang tidak kalah penting adalah mengenalkan banyak kosakata baru serta mendorong anak mempelajari bahasa asing sejak dini. Anak yang belajar bahasa asing selama dua tahun tercatat memiliki skor SAT 14 persen lebih tinggi.

"Nilai verbal siswa yang telah mengambil bahasa asing selama empat atau lima tahun lebih tinggi daripada nilai verbal siswa yang telah mengambil mata pelajaran lain selama empat atau lima tahun," demikian isi studi American Psychological Association.

Langkah terakhir yang harus diperhatikan adalah menghindari paparan pestisida selama masa kehamilan. Studi Columbia University menemukan bahwa paparan prenatal terhadap pestisida berhubungan langsung dengan penurunan fungsi eksekutif dan memori kerja anak saat menginjak usia tujuh tahun.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author