Matt Freese Kawal Timnas AS Hadapi Belgia di Piala Dunia 2026
Kiper utama New York City FC, Matt Freese, bersiap mengawal gawang Tim Nasional Pria Amerika Serikat (USMNT) dalam laga babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 melawan Belgia di Seattle Stadium pada Senin, 6 Juli 2026.
Pelatih Mauricio Pochettino menurunkan susunan pemain yang sama untuk tiga pertandingan berturut-turut demi mengejar tiket perempat final. Penampilan Freese di turnamen ini melompati posisi Matt Turner yang merupakan kiper utama pada Piala Dunia 2022 di Qatar.
Sebelum menembus skuad utama, penjaga gawang berusia 27 tahun ini sempat menolak tawaran magang di Manchester United demi menempuh studi ekonomi di Harvard University dan bermain untuk tim kampus, Harvard Crimson.
Freese juga memiliki rekam jejak akademis unik dengan menulis tesis mengenai analisis tendangan penalti yang statistiknya ia terapkan di lapangan pertandingan. Keahlian ini terbukti saat ia menggagalkan tiga eksekusi penalti Kosta Rika pada perempat final Piala Emas CONCACAF tahun lalu.
Keputusan Freese mengejar karier sepak bola profesional sempat memicu keraguan di internal keluarganya yang didominasi oleh ilmuwan dan akademisi, termasuk mendiang ayahnya, Dr. Andrew Freese, yang merupakan seorang ahli bedah saraf dan pelopor terapi gen.
Pihak keluarga sempat menilai pilihan karier tersebut kurang memberikan kontribusi sosial dibandingkan jalur akademik murni.
"All of the patients that were treated showed improvement, which is already something incredible and exceptional when it comes to a disease that has no hope," kata Dr. Paola Leone, profesor di Rowan University kepada WHYY.
Kolega Dr. Andrew tersebut menambahkan bahwa sang dokter selalu diingat oleh keluarga pasien yang pernah dibantunya.
"There’s not one day that I don’t think of the things he said, the recommendation he gave me. And that’s not just for me, but also for the families that he met—he was a giver," ujar Dr. Paola Leone, profesor di Rowan University.
Ketegangan sempat muncul ketika Freese memutuskan meninggalkan Harvard lebih awal setelah dua semester demi menandatangani kontrak profesional bersama Philadelphia Union di Major League Soccer (MLS).
"I don't think he saw a great social altruism in professional sports," kata Matt Freese kepada ESPN saat mengenang pandangan mendiang ayahnya.
Kiper kelahiran Bryn Mawr ini menjelaskan bahwa ia sempat memilih Harvard sebagai jalan tengah untuk menghormati keinginan ayahnya.
"He thought that it was potentially a selfish career," ujar Matt Freese kepada ESPN.
Kiper bernomor punggung 49 di NYC FC ini juga menegaskan komitmen awalnya dalam menyeimbangkan ekspektasi keluarga.
"It was me trying to strike the balance of making my father proud and adhering to his suggestions and encouragement as well as respecting his wishes," kata Matt Freese kepada ESPN.
Dr. Andrew Freese meninggal dunia akibat gagal ginjal pada tahun 2021 dalam usia 61 tahun, sebelum sempat melihat anaknya bersinar di Piala Dunia.
"My father was an incredibly intelligent person," kata Matt Freese dalam wawancara lanjutan.
Freese menambahkan bahwa ayahnya mewarisi kecerdasan tinggi dari generasi keluarga terdahulu dan mendedikasikan hidup untuk menolong orang lain.
"A lot of his family, going back generations, were very established professors and scientists and doctors. The off-the-charts kind of intelligence. And my dad certainly had that brain.
He was so talented, hard-working and caring. As a doctor he dedicated his life to helping others," ujar Matt Freese.
Setelah situasi pandemi melandai, Freese memanfaatkan kelas daring yang disediakan Harvard untuk menyelesaikan gelar sarjananya pada tahun 2022.
"He obviously came around," kata Katherine Freese, bibi Matt yang merupakan seorang astrofisikawan kepada NBC News terkait dukungan akhir sang ayah.
Katherine menambahkan bahwa kemampuan keponakannya tersebut melampaui perkiraan awal pihak keluarga.
"Matt was better than anybody understood," ujar Katherine Freese kepada NBC News.
Sikap skeptis dari keluarga besar juga sempat terlontar dari paman Matt saat sang kiper menyatakan ingin menjadi pemain sepak bola profesional.
"I remember my uncle saying, ‘Poor Matt is going to end up sitting on the bench his whole life,’" kenang Katherine Freese kepada NBC News.
Keluarga sempat khawatir karier tersebut tidak akan berhasil di masa depan.
"‘Oh no, it’ll never work!’" ujar Katherine Freese menirukan ucapan sang paman kepada NBC News.
Pakar DNA mutations, Ernst Freese, yang merupakan kakek Matt, dinilai sebagai peletak fondasi mutasi genetik.
"He discovered how gene mutations work," kata Katherine Freese kepada NBC News.
Menurutnya, penemuan tersebut menjadi pilar penting dalam memahami evolusi dan penyakit neurodegeneratif.
"Which is like the foundation of evolution, for God’s sake," ujar Katherine Freese kepada NBC News.
Di sisi lain, ibu Matt, Marcia Geary Wolicki, menjadi sosok yang membesarkan empat anak secara mandiri setelah bercerai saat Matt berusia delapan tahun.
"At the time, you're in that day-to-day. You're just trying to get a meal on the table, get the homework done," kata Marcia Geary Wolicki kepada ESPN mengenai perjuangannya mengantar Matt latihan pagi.
Matt Freese sendiri tidak ingin peran besar ibunya terabaikan oleh narasi seputar kematian ayahnya.
"A lot of stuff is about my dad," kata Matt Freese kepada ESPN.
Ia menegaskan bahwa keberhasilannya saat ini sangat dipengaruhi oleh pengorbanan sang ibu.
"I really owe so much of it to her. I would not want her to not get those words about her because of the more optically pleasing story about my dad and his passing," ujar Matt Freese kepada ESPN.
AS kini mengandalkan Freese yang mencatatkan tiga kemenangan dan dua clean sheet sepanjang turnamen untuk menghadapi gempuran lini serang Belgia demi mengamankan tempat di babak perempat final.