OJK Minta Warga Waspada Penipuan Love Scam Berteknologi AI

Share

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap modus penipuan asmara atau love scam di sektor jasa keuangan yang kini marak memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Imbauan ini menyusul adanya kasus penipuan di Medan yang mengakibatkan seorang korban kehilangan uang hingga Rp120 miliar dalam waktu empat bulan.

Ketua Satgas PASTI, Rizal Ramadhani, mengungkapkan bahwa pelaku love scam menyasar korban laki-laki maupun perempuan dengan menggunakan profil palsu yang menarik. Identitas visual dan suara para pelaku umumnya telah dimanipulasi sedemikian rupa dengan teknologi AI untuk mengelabui korban.

"Modusnya biasanya perempuan, ngakunya perempuan. Karena semua pakai AI, suara bisa mirip, muka bisa mirip. Jadi waktu dicek muka bisa pakai AI karena mereka tampaknya perempuan," kata Rizal saat ditemui di sela-sela acara Seminar on Scams, Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026).

Para pelaku memanfaatkan teknologi tersebut untuk melakukan pendekatan secara intensif hingga korban merasa nyaman. Setelah kepercayaan terbangun, pelaku mulai melancarkan aksi meminta uang secara langsung atau membujuk korban membeli produk tertentu.

"Terus akhirnya dimintai uang, uang itulah yang ditransfer, orangnya hilang. Kira-kira gitu sih gampangnya," jelas Rizal.

Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Finance, salah satu kasus love scam dengan kerugian terbesar menimpa seorang perempuan yang bekerja di sektor angkutan publik di Medan. Kerugian dalam kasus tunggal tersebut dilaporkan mencapai ratusan miliar rupiah.

"Nah itu ada korban yang paling besar itu di Medan, Rp 120 miIiar, ibu-ibu, dia angkutan publik," kata Direktur Satgas PASTI Brigjen Pol. Djoko Prihadi.

Djoko menjelaskan bahwa pelaku penipuan tersebut ternyata merupakan seorang pemuda yang juga berdomisili di Medan. Pelaku menggunakan identitas palsu sebagai warga negara Singapura untuk memikat korbannya melalui akun media sosial.

"Jadi mereka memang pendekatannya luar biasa. Ganteng banget di akunnya, dia ngakunya orang Singapura, padahal sama-sama orang Medan. Korban orang Medan, pelaku orang Medan," terangnya.

Aksi penipuan ini berlangsung selama empat bulan sebelum pelaku memutus kontak dan menghilang. Korban baru menyadari tindak penipuan tersebut dan melapor ke pihak berwenang tiga bulan setelah kejadian, sehingga proses pelacakan aliran dana menghadapi kendala besar.

"Salah satu yang paling besar itu. Satu orang loh, Rp 120 miliar, empat bulan sudah amblas. Dia lapor sudah sekitar tiga bulan kemudian.

Jadi kita juga tracing money-nya, money trail-nya itu sudah sulit. Ya sudah habis semua, sudah hilang," tandas Djoko.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author