Studi Ungkap Jam Tidur Larut Cerminkan Tingkat Kecerdasan Tinggi

Share

Waktu tidur seseorang ternyata tidak hanya berpengaruh pada kondisi kesehatan fisik dan kesegaran tubuh semata. Jadwal istirahat tersebut rupanya dapat menjadi cerminan dari tingkat kecerdasan dan kemampuan kognitif seseorang. Sebuah riset yang dimuat dalam jurnal Scientific Reports pada tahun 2020 mengungkapkan adanya kaitan erat antara jam tidur dengan fungsi kognitif manusia.

Data ini menunjukkan bahwa pilihan waktu beristirahat erat hubungannya dengan kapasitas intelektual. Laporan yang dikutip dari HaiBunda mengacu pada data yang dikumpulkan dari 1.172 orang dewasa di organisasi Mensa. Komunitas tersebut merupakan wadah berkumpulnya orang-orang yang memiliki skor IQ tertinggi dari beragam latar belakang usia, ras, serta jenis kelamin.

Melalui metode survei, tim peneliti membandingkan nilai IQ para peserta dengan jadwal tidur mereka. Perbandingan ini dilakukan baik pada saat hari kerja maupun ketika memasuki masa libur akhir pekan.

Hasil analisis memperlihatkan bahwa individu ber-IQ tinggi paling sering tidur lebih larut pada hari kerja. Sementara pada hari libur, kecenderungan untuk tidur hingga larut malam didapati menyebar secara umum di hampir semua subjek. Kecenderungan orang cerdas untuk bergadang ini tidak secara otomatis menunjukkan adanya hubungan biologis langsung antara sirkadian dengan kecerdasan. Peneliti menjelaskan bahwa kelompok pemilik IQ tinggi ini memiliki peluang dan kesempatan lingkungan yang mendukung untuk tidur lebih larut.

Pola istirahat anggota Mensa dalam riset tersebut dipengaruhi oleh jam mulai bekerja, bukan karena faktor ritme sirkadian bawaan tubuh. Sebagian besar subjek memiliki fleksibilitas profesi yang baru dimulai pada siang hari atau sekitar pukul 10:00 pagi. Kelapangan waktu ini membuat mereka bisa terjaga lebih lama di malam hari. Mereka tetap mendapatkan durasi tidur yang sehat dan memadai karena dapat bangun lebih siang keesokan harinya.

Pengaruh Jenis Pekerjaan Terhadap Waktu Istirahat

Riset ini juga membedakan pola tidur berdasarkan kategori profesi yang kerap dihubungkan dengan tingkat apresiasi perusahaan terhadap skor tes kecerdasan karyawan.

1. Pekerja Kerah Biru

Kategori pekerja kerah biru yang mengandalkan keterampilan fisik dan manual biasanya mengawali aktivitas harian jauh lebih awal. Profesi seperti teknisi listrik, pekerja konstruksi, teknisi HVAC, dan mekanik umumnya harus bangun antara pukul 04:00 hingga 06:30 pagi dengan durasi kerja 8 sampai 12 jam.

2. Pekerja Kerah Putih

Pekerja kerah putih yang berbasis pada tugas administratif dan manajerial di kantor lebih banyak menggunakan kapasitas mental. Jam operasional kantor mereka biasanya baru dimulai antara pukul 06:00 hingga 10:00 pagi, sehingga memberikan waktu ekstra untuk beristirahat dengan durasi kerja sekitar 8 hingga 9 jam sehari.

Faktor Eksternal Penentu Pola Tidur

Terdapat beragam faktor lain di luar aspek biologi yang ikut menentukan perbedaan jam tidur pada setiap individu. Peneliti mencontohkan adanya perbedaan budaya, seperti warga Jerman yang secara umum memiliki jam tidur lebih konservatif ketimbang warga Amerika Serikat.

Meskipun demikian, data ilmiah yang ada saat ini belum cukup kuat untuk mematahkan kemungkinan adanya korelasi biologis antara kecerdasan dengan kebiasaan terjaga hingga larut malam. Kebiasaan bergadang tetap aman bagi fungsi optimal otak selama durasi tidur total terpenuhi secara cukup.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author