Analis Sebut Saham ANTM Jadi Pilihan di Tengah Gejolak Pasar
Bloomberg Technoz, Jakarta – Ditengah gejolak pasar saham domestik, menentukkan saham untuk investasi kadang cukup sulit. Analis menyebut, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu pilhan.
Analis Komoditas Wahyu Laksono mengatakan ANTM menunjukkan perbaikan fundamental yang signifikan pada awal tahun. Menurutnya, lonjakan laba bersih menjadi indikator bahwa perusahaan berada dalam tren pertumbuhan yang kuat.
"Berdasarkan laporan kinerja kuartalan, ANTM menunjukkan lonjakan performa yang sangat signifikan pada kuartal pertama tahun 2026. Laba bersih kuartal pertama tercatat sebesar Rp3,407 triliun, meningkat dibandingkan Rp2,131 triliun pada kuartal pertama 2025, bahkan melonjak tajam dibandingkan kuartal pertama 2024 yang hanya sebesar Rp238 miliar," ujar Wahyu Laksono.
Perolehan laba bersih Antam tersebut naik 58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,32 triliun. Pendapatan juga meningkat sekitar 12% menjadi Rp29,32 triliun, sementara laba usaha naik menjadi Rp4,50 triliun.
Dari sisi neraca, ANTAM mencatatkan total aset sebesar Rp63,30 triliun hingga akhir Maret 2026, naik dari Rp52,53 triliun pada akhir tahun lalu. Total ekuitas meningkat menjadi Rp40,41 triliun dengan posisi kas dan setara kas mencapai Rp9,04 triliun.
Menurut Wahyu, kondisi tersebut menunjukkan struktur keuangan ANTM berada dalam posisi yang sangat kuat.
"Posisi keuangan perusahaan tergolong sangat sehat dan solid. Total aset mencapai Rp63,29 triliun dengan ekuitas Rp40,41 triliun. Yang menarik, posisi kas sebesar Rp9,04 triliun melebihi total utang Rp5,59 triliun sehingga ANTM berada dalam posisi net cash dengan risiko likuiditas yang sangat minim," katanya.
Ia menilai kekuatan fundamental tersebut belum sepenuhnya tercermin pada harga saham saat ini.
"Pada tingkat harga saham sekitar Rp2.920, valuasi ANTM tergolong atraktif. Current PE Ratio berada di level 5,15 kali, PE Ratio TTM 8,27 kali, Price to Book Value 1,81 kali, sedangkan EV to EBITDA sekitar 6 kali. Untuk perusahaan tambang dengan profitabilitas seperti ini, valuasinya masih relatif murah," ujarnya pekan lalu, saat harga saham ANTM diposisi tersebut, sekarang harga saham pada level Rp2.940 per unit.
Selain potensi kenaikan harga saham, Wahyu menilai dividend yield ANTM juga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.
"Dividend yield sebesar 7,19% dengan payout ratio sekitar 37% membuat saham ini tidak hanya menarik dari sisi capital gain, tetapi juga memberikan potensi pendapatan dividen yang kompetitif," kata dia.
UBS Tetap Rekomendasikan Buy
Pandangan serupa datang dari UBS dalam riset yang diterbitkan pada 10 Juni 2026. Bank investasi tersebut mempertahankan rekomendasi Buy untuk ANTM dengan target harga 12 bulan sebesar Rp6.050 per saham, atau sekitar 120% di atas harga penutupan Rp2.750 saat riset diterbitkan. Jika memperhitungkan dividen, UBS memperkirakan total potensi imbal hasil mencapai sekitar 129,5%.
UBS menilai hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ANTM sesuai ekspektasi. Perseroan menyetujui pembagian dividen sebesar 70% dari laba bersih atau setara Rp210 per saham, dengan dividend yield sekitar 7,6%. Menurut UBS, meskipun lebih rendah dari ekspektasi sebagian pelaku pasar, kebijakan tersebut tetap konsisten dengan proyeksi perusahaan.
Pergantian Chief Financial Officer (CFO) kepada Arini Kasmira juga dinilai tidak mengubah arah strategi bisnis maupun prospek jangka panjang ANTM.
Dalam proyeksinya, UBS memperkirakan pendapatan ANTM akan melonjak menjadi sekitar Rp162 triliun pada 2026 dengan laba bersih mencapai Rp13,3 triliun, hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp7,2 triliun. Laba bersih diproyeksikan terus meningkat menjadi Rp15 triliun pada 2027, Rp15,4 triliun pada 2028, Rp17,4 triliun pada 2029, hingga Rp19,6 triliun pada 2030.
Sejalan dengan pertumbuhan laba, dividen diperkirakan meningkat secara bertahap hingga mencapai sekitar Rp506 per saham pada 2030.
Peluang Rebound
Meski fundamental menguat, Wahyu menilai secara teknikal saham ANTM masih berada dalam fase konsolidasi setelah terkoreksi dari level tertingginya.
"Pergerakan harga saat ini masih berada di bawah MA50, MA100, dan MA200 sehingga tren jangka menengah masih cenderung bearish. Namun RSI berada di level 49,6 atau area netral, yang menunjukkan tekanan jual mulai mereda dan harga mulai stabil," ujarnya.
Ia memperkirakan peluang pembalikan arah mulai terbuka apabila harga mampu bertahan di atas level support.
"Outlook harga saham berpotensi mengalami reversal untuk menguji resistance terdekat di kisaran 3.260, dengan syarat mampu bertahan di atas support psikologis. Pemulihan harga komoditas akan menjadi katalis utama," kata Wahyu.
Untuk jangka pendek, Wahyu memperkirakan saham ANTM bergerak di kisaran 2.220-3.440, dengan target rebound di level 3.260. Sementara dalam jangka menengah, ia melihat peluang harga saham menuju 5.000, apabila didukung oleh pertumbuhan laba dan membaiknya sentimen komoditas.
Meski demikian, UBS mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, mulai dari potensi pelemahan harga nikel global, kenaikan biaya energi, keterlambatan proyek hilirisasi, sengketa transaksi emas senilai sekitar Rp1,1 triliun, hingga keterbatasan pasokan listrik untuk mendukung ekspansi produksi feronikel. Namun, dengan kombinasi pertumbuhan laba, posisi keuangan yang kuat, dan valuasi yang masih rendah, baik UBS maupun Wahyu Laksono sama-sama melihat ANTM masih memiliki prospek positif dalam jangka menengah hingga panjang.