Perubahan Iklim Picu Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

Share

Ahli kesehatan lingkungan Dicky Budiman menjelaskan kombinasi faktor cuaca alami dan dampak aktivitas manusia memicu gelombang panas ekstrem di sejumlah negara Eropa yang mencapai suhu di atas 40 derajat Celsius pada Senin (06/07), dilansir dari Bloomberg Technoz.

Suhu panas yang melonjak tinggi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yang bekerja secara bersamaan di wilayah tersebut.

"Fenomena ini sebetulnya tidak berdiri sendiri. Penyebabnya adalah kombinasi antara faktor cuaca alami dan perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Ada beberapa faktor yang bekerja secara bersamaan," ujar Dicky.

Sistem tekanan udara tinggi atau kubah panas menjadi faktor pertama yang membuat awan sulit terbentuk dan terus memanaskan permukaan tanah.

"Heat dome ini seperti tutup panci yang menjebak udara panas di dekat permukaan bumi. Awan sulit terbentuk sehingga sinar matahari terus memanaskan permukaan tanah dari hari ke hari," jelas Dicky.

Faktor berikutnya dipicu oleh masuknya massa udara panas dari kawasan Gurun Sahara di Afrika yang menaikkan suhu secara signifikan, disusul faktor mendasar berupa emisi gas rumah kaca.

"Gelombang panas Eropa pada Juni 2026 ini secara praktis hampir tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia," kata Dicky.

Dicky menuturkan bahwa benua Eropa mengalami pemanasan sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global berdasarkan hasil konferensi di Australia.

Meskipun fenomena serupa tidak akan terjadi dalam bentuk yang sama di Indonesia, Dicky mengingatkan bahwa risiko peningkatan panas ekstrem akibat perubahan iklim tetap mengintai tanah air.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author