Kemenhaj Beri Penghargaan Petugas PPIH Arab Saudi Terbaik 2026
Kementerian Haji dan Umrah memberikan penghargaan Apresiasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Terbaik 2026 kepada sejumlah petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH Arab Saudi pada Minggu, 5 Juli 2026. Penghargaan ini dibagi ke dalam 13 sektor tumpuan pelayanan jemaah.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyerahkan langsung penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi petugas di lapangan. Salah satu penerima penghargaan petugas terbaik dari unsur Media Center Haji atau MCH adalah Jurnalis Metro TV, Mahmud Ihsan Fauzi.
"Hal ini tidak terlepas dari kerja sama dari seluruh stakeholder yang ada di Kementerian Haji Republik Indonesia. Tentu saja juga mengucapkan terima kasih karena hal ini tidak terlepas dari kerja sama antara semua pihak, baik dari Kementerian Haji dan Umrah, unsur pimpinan dan juga teman-teman MCH" kata Jurnalis Metro TV Mahmud Fauzi, dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV.
Pihak Kementerian Haji dan Umrah menilai tim MCH tahun ini memiliki peran spesial karena terlibat langsung dalam membantu pelayanan jemaah di Tanah Suci di samping tugas utama mereka mengabarkan berita.
"Media Center Haji tahun ini tuh agak spesial. Kenapa? Mereka tidak fokus hanya menulis dan mengabarkan berita, bahkan mereka ikut dalam pelayanan. Pelayanan jemaah yang difabel, yang tua, bahkan ikut mendorong, ikut memandu jemaah." ucap Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak.
Tim MCH memiliki andil penting dalam mendokumentasikan serta menyebarluaskan seluruh proses pelayanan haji secara transparan kepada masyarakat di Tanah Air.
"Seing pagi kami sudah berada di lokasi mengikuti seluruh agenda jemaah. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing agar semua proses dapat terdokumentasi dengan baik dan informasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap lengkap," ujar Mallikatul Hanin, Panitia Humas Media Center PPIH Embarkasi Aceh Tahun 2026.
Selain tim media, penghargaan ini juga menyoroti peran vital sektor transportasi dalam melayani pergerakan armada bus dan mobilitas jemaah.
“Tugas utama kami memastikan proses transportasi berjalan lancar, mulai dari membantu jemaah turun dari bus, mengantar pengguna kursi roda hingga ke kamar hotel, mengawasi penurunan koper, memastikan tidak ada barang tertinggal di bus, sampai mengatur keberangkatan jemaah menuju Makkah,” ujar Sukarjan, Petugas Transportasi Daker Madinah.
Para petugas di lapangan kerap menghadapi dinamika yang dinamis demi menjaga kenyamanan serta keselamatan para jemaah.
“Di lapangan memang ada kondisi yang harus menyesuaikan dengan kebijakan syarikah penyedia transportasi. Namun secara umum pelayanan tetap berjalan sesuai prosedur dan dapat dilaksanakan dengan baik,” katanya.
Interaksi langsung dengan jemaah lansia dan disabilitas menumbuhkan ikatan emosional tersendiri bagi para petugas.
“Yang paling berkesan ketika kami mendorong kursi roda, menuntun lansia, bahkan menggendong jemaah yang sudah tidak kuat berjalan. Saat mereka sampai di kamar hotel lalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih, itu menjadi kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apa pun,” tuturnya.
Kendala bahasa dengan pengemudi lokal di Arab Saudi menjadi salah satu tantangan yang kerap dihadapi petugas transportasi.
“Terkadang cukup dengan isyarat tangan, mereka sudah memahami apa yang kami maksud. Yang penting komunikasi tetap terjalin,” ujarnya.
Petugas menilai jemaah Indonesia sangat membutuhkan pelayanan yang sabar serta humanis selama berada di lingkungan baru.
“Yang paling dibutuhkan jemaah adalah sapaan yang hangat, sentuhan yang lembut, serta kesabaran dalam memberikan penjelasan. Hal-hal sederhana seperti menunjukkan jalan menuju kamar atau mengajari menggunakan fasilitas hotel sangat berarti bagi mereka,” katanya.
Bagi para petugas, amanah yang diberikan oleh negara ini dipandang sebagai bentuk pengabdian religius yang mendalam.
“Melayani jemaah bukan sekadar slogan. Kami menganggap setiap jemaah seperti orang tua kami sendiri. Karena itu, mereka harus dilayani dengan sepenuh hati agar menjadi amal ibadah dan bentuk amanah yang dipercayakan negara kepada kami,” ungkapnya.
Evaluasi terhadap mitra layanan di Arab Saudi yang belum memenuhi kontrak kerja diharapkan dapat terus dilakukan ke depan.
“Bila layanan terus diperbaiki dari tahun ke tahun, insyaallah jemaah Indonesia akan semakin nyaman, aman, dan dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk,” pungkasnya.
Di sisi lain, tantangan berat juga dirasakan oleh tim media yang bertugas memberikan edukasi serta sosialisasi program kementerian di tiga daerah kerja.
“Kalau kita sih selama jadi petugas, fokusnya memberikan pelayanan terbaik aja bagi jemaah. Jadi sebagai petugas MCH itu harus membantu sosialisasi, edukasi kepada jemaah haji, memberikan sosialisasi terkait program-program Kementerian Haji dan Umrah kepada jemaah haji, membantu publikasi yang terkait dengan pelayanan jemaah haji kepada masyarakat. Poinnya adalah untuk memastikan seluruh proses pelaksanaan ibadah haji ini bisa berlangsung aman dan lancar,” kata Fauzi kepada Metrotvnews.com.
Kehadiran informasi yang akurat dari Tanah Suci sangat krusial demi menjaga ketenangan psikologis keluarga jemaah di Indonesia.
“Jadi keluarga yang ada di rumah merasa aman karena mengetahui informasi yang ada di Tanah Suci,” ujarnya.
Penyampaian informasi tersebut didukung penuh oleh kerja sama yang solid di lingkungan operasional panitia.
“Jadi kita kerja sama tim di tiga daker. Jadi Daker Makkah, Madinah, sama Bandara. Jadi ketiga tim ini saling support,” ucapnya.
Fase puncak haji di Mina menjadi momen yang paling menguras fisik dan emosi bagi petugas media.
“Yang paling berkesan itu waktu kita tugas di Mina. Jadi puncak ibadah haji saat di Mina. Jadi fase terberat ibadah haji itu kalau menurut saya ada di Mina,” ungkapnya.
Selama di Mina, petugas ikut mendampingi langsung jemaah yang kelelahan dan tersesat agar bisa kembali ke tenda.
“Jadi saya itu seharian nganterin jemaah haji dari pagi sampai malam. Jadi nganterin jemaah yang tersesat, kelelahan, itu mendampingi sampai ke tenda-tenda mereka,” ujarnya.
Ekspresi kebahagiaan dari jemaah yang berhasil dibantu menjadi pengalaman spiritual tersendiri yang mengharukan.
“Bayangkan senangnya orang ketika sudah berjalan puluhan kilometer gak ketemu tendanya, kita anterin sampai depan tenda, mereka senangnya sampai nangis, Mbak,” tambahnya.
Tantangan petugas haji 2026 juga mencakup faktor cuaca ekstrem dengan suhu udara yang mencapai 40 hingga 44 derajat Celsius.
“Jadi sempat drop, sempat opname, sempat dirawat karena kelelahan, terus mendapatkan perawatan satu hari di KKHI,” sahutnya.
Kementerian Haji dan Umrah menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pembenahan standar pelayanan petugas pada musim haji berikutnya.