NCAA Terbitkan Panduan Baru Mengenai Kelayakan Pemain Internasional

Share

Asosiasi Atletik Perguruan Tinggi Nasional (NCAA) mendistribusikan panduan baru mengenai persyaratan kelayakan prapendaftaran pada 8 Mei untuk membatasi keterlibatan pemain profesional internasional di bola basket kampus.

Regulasi tersebut menargetkan calon atlet yang pernah mengikat kontrak, bertanding, atau menerima kompensasi dari tim liga profesional luar negeri yang standar upah minimumnya melampaui biaya pengeluaran aktual yang diperlukan.

Kebijakan ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pelatih karena sejumlah pemain dari EuroLeague dan NBL Australia yang telah berkomitmen untuk musim 2026-2027 terancam kehilangan status kelayakan mereka.

"Asosiasi sedang memodernisasi buku aturan dalam beberapa cara untuk memastikan olahraga kampus dimainkan oleh atlet kampus dan tidak digunakan sebagai cadangan bagi atlet profesional, dan model kelayakan berbasis usia yang sekarang sedang dipertimbangkan dirancang untuk mengatasi kekhawatiran banyak sekolah anggota terkait kelayakan," ujar juru bicara NCAA dalam sebuah pernyataan kepada Sports Illustrated.

Panduan teranyar dari otoritas tertinggi olahraga perguruan tinggi Amerika Serikat tersebut menegaskan pengetatan sanksi bagi pemain yang menerima gaji melebihi batas pengeluaran wajar.

"Mengapa Anda melakukan ini di tengah jalan ketika ada seratus juta dolar di luar sana?" kata seorang kepala pelatih yang mendatangkan pemain internasional musim semi ini.

Kritik tajam juga datang dari komunitas bola basket Australia yang menilai perubahan mendadak ini merugikan keputusan karier para pebasket muda yang sebelumnya mengikuti aturan lama.

"Sementara tujuan akhir dari perubahan baru ini adalah hal yang benar, waktu perubahan yang tiba-tiba ini tidak adil," ujar mantan bintang kampus Pete Hooley.

Ia menyoroti nasib para atlet muda yang terpaksa menghadapi ketidakpastian regulasi setelah sebelumnya mendapatkan izin resmi untuk berkomitmen dengan tim universitas.

"Anak-anak muda ini telah membuat keputusan karier yang besar berdasarkan fakta bahwa NCAA telah mengizinkan mereka melakukannya. Jadi, setiap perubahan mendadak yang akan membuat mereka telantar adalah hal yang benar-benar tidak adil," kata Pete Hooley.

Ia menambahkan bahwa pengetatan regulasi amat diperlukan agar marwah olahraga amatir tidak bergeser menjadi ajang pencarian keuntungan finansial semata.

"Pada akhirnya, jenis perubahan ini 100% dibutuhkan, karena olahraga kampus telah menjadi lelucon dalam hal siapa yang bisa memenuhi syarat," tutur Pete Hooley.

Ia membandingkan situasi kompensasi masa kini yang bernilai jutaan dolar dengan ketatnya hukuman masa lalu bahkan untuk pelanggaran yang sangat sepele.

"Olahraga kampus harus kembali ke atlet mahasiswa muda yang bermain, daripada mantan pilihan draft NBA berusia 25 tahun yang hanya menginginkan sekantong uang tunai yang banyak," kata Pete Hooley.

Ia mengenang bagaimana aturan lama menindak tegas keuntungan komersial sekecil apa pun yang diterima oleh seorang pemain kampus.

"Pada tahun 2015, pemain besar starter kami menerima burrito gratis setelah kami melaju ke pertandingan kejuaraan. Dia dinyatakan bersalah melanggar aturan dan kemudian diskors untuk pertandingan besar tersebut," cetus Pete Hooley.

Di sisi lain, jurnalis olahraga Jonathan Givony menyampaikan kritik melalui media sosial mengenai dampak langsung dari kebijakan baru ini terhadap eksistensi talenta luar negeri di kompetisi Amerika Serikat.

"Aturan baru NCAA yang (waktunya sangat buruk) mengirimkan pesan yang jelas: pemain internasional tidak lagi diterima di permainan kampus. ACB, Prancis, Italia, NBL Australia, dan siapa pun yang pernah bermain untuk tim EuroLeague, bahkan untuk bayaran yang sangat kecil, tiba-tiba tidak memenuhi syarat secara permanen?" tulis Jonathan Givony.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author