Perempuan Perimenopause Masih Bisa Hamil, Ketahui Risiko dan Pola Ovulasinya
Masa perimenopause menjadi fase transisi tubuh seorang perempuan sebelum memasuki masa menopause total. Periode ini umumnya dimulai pada pertengahan hingga akhir usia 40-an dengan ditandai oleh berbagai perubahan fisik.
Siklus menstruasi yang berubah menjadi lebih lama, pendek, berat, atau lebih ringan menjadi salah satu tandanya. Selain itu, hampir 90 persen perempuan merasakan gejala lain seperti hot flashes, sulit tidur, suasana hati yang terganggu, hingga kekeringan pada organ intim.
Dikutip dari HaiBunda, fluktuasi hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan ovarium menjadi pemicu utama munculnya gejala-gejala tersebut.
"Perimenopause mengacu pada tahun-tahun menjelang menopause, yaitu ketika menstruasi berhenti secara permanen. Pada kebanyakan orang, periode ini berlangsung sekitar emapt tahun," kata Stacy A. Henigsman, DO.
"Selama periode ini, ovarium menghasilkan estrogen dan progesteron dalam jumlah yang bervariasi. Fluktuasi hormon tersebut dapat menyebabkan gejala perimenopause," sambungnya.
Walaupun tingkat kesuburan mengalami penurunan seiring bertambahnya usia, potensi kehamilan ternyata masih tetap ada selama masa perimenopause.
Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperlihatkan tren peningkatan kelahiran bayi dari ibu berusia 40 sampai 44 tahun dalam beberapa tahun terakhir dibanding kelompok usia yang lebih muda.
"Kesuburan tidak meningkat selama perimenopause, tetapi kesuburan tidak akan turun hingga nol sampai perempuan mencapai menopause," kata Catherine Caponero, DO.
"Kehamilan spontan dapat terjadi dan memang terjadi, hingga perempuan mencapai periode menstruasi terakhirnya."
Proses kehamilan masih dimungkinkan terjadi karena ovarium tetap melepaskan sel telur atau berovulasi, sehingga pembuahan tetap bisa berlangsung saat melakukan hubungan seksual. Namun, penurunan jumlah sel telur sehat membuat ovulasi tidak lagi berjalan teratur.
Ketidakteraturan ini membuat metode pelacakan siklus kesuburan konvensional menjadi kurang akurat karena panjang siklus yang terus berubah.
"Ovulasi menjadi lebih tidak teratur dan sulit diprediksi," ungkap Caponero.
"Hal ini menyebabkan panjang siklus berubah, yang dapat membuat pelacakan kesuburan menjadi jauh kurang dapat diandalkan," lanjutnya.
Bagi perempuan yang ingin merencanakan kehamilan di usia lanjut, konsultasi medis secara intensif sangat disarankan. Batasan waktu untuk berkonsultasi disesuaikan dengan rentang usia masing-masing.
Perempuan di bawah usia 35 tahun disarankan mencoba hingga satu tahun sebelum menjalani tes kesuburan. Sementara bagi yang berusia 35 hingga 40 tahun, pemeriksaan ke spesialis dapat dilakukan setelah enam bulan mencoba.
Bagi perempuan berusia 40 tahun ke atas, perencanaan matang bersama dokter spesialis kesuburan harus segera dilakukan demi mengantisipasi segala kemungkinan risiko medis.
"Kesuburan terus menurun seiring bertambahnya usia, dan risiko kelainan kromosom meningkat," ungkap Caponero.
"Risiko tersebut bukan sepenuhnya disebabkan oleh perubahan hormonal perimenopause, tetapi lebih karena kesehatan sel telur menurun seiring bertambahnya usia."
Beberapa risiko medis yang perlu diwaspadai pada kehamilan usia lanjut meliputi kelainan kromosom, preeklamsia, diabetes gestasional, kebutuhan persalinan caesar, hingga potensi kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.