Ibas Dorong Pengelolaan Sampah Menjadi Gerakan Ekonomi Baru di Pacitan
Pengelolaan sampah kini bukan sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telah bertransformasi menjadi gerakan bersama yang mampu menggerakkan roda perekonomian baru masyarakat.
Dikutip dari Detikcom, konsep tersebut memerlukan kolaborasi kuat antara masyarakat, pemerintah, serta seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutan dan kesehatan lingkungan.
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menyaksikan langsung kreativitas warga dalam mengubah limbah rumah tangga menjadi produk berdaya guna di Kabupaten Pacitan.
Langkah nyata tersebut membuktikan bahwa pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi berbasis komunitas lokal.
Bersama Kementerian Lingkungan Hidup, legislator dari Dapil Jawa Timur VII ini menghadiri agenda Sosialisasi Pengurangan Sampah dan Pembinaan Kelompok Masyarakat Kabupaten Pacitan.
Acara yang bertajuk "Sampah Terkelola, Lingkungan Terjaga" tersebut diikuti oleh ratusan warga setempat dengan penuh antusias.
"Setiap kali saya datang ke Pacitan, saya selalu merasakan semangat gotong royong dan kekeluargaan yang begitu kuat. Pacitan bukan hanya memiliki alam yang indah, tetapi juga masyarakat yang pekerja keras dan selalu bergandengan tangan membangun daerahnya," ujar Ibas dalam keterangan tertulis, Minggu (5/7/2026).
Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI tersebut saat meninjau Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Sidomakmur di Kelurahan Sidoharjo, Kabupaten Pacitan, Sabtu (4/7).
Menurut lulusan S3 IPB University ini, perubahan paradigma terhadap limbah harus diinisiasi dari lingkup terkecil yakni keluarga.
Kesadaran kolektif menjadi fondasi utama dalam membangun budaya bersih sekaligus memastikan pembangunan berkelanjutan.
"Biasanya sampah hanya dibuang begitu saja dan tidak memberikan manfaat. Namun hari ini kita melihat bagaimana, dengan dukungan pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup, dan semangat kelompok masyarakat, sampah rumah tangga bisa dikelola menjadi sesuatu yang produktif dan bermanfaat," katanya.
Ibas menekankan integrasi pengelolaan limbah harus menjadi gerakan masif yang bermula dari tingkat desa.
Tanpa adanya sistem terpadu, perwujudan lingkungan yang sehat dan lestari bagi generasi masa depan akan sulit tercapai.
"Kalau kita tidak mulai memikirkan pengelolaan sampah yang terpadu, yang mengutamakan kebersihan, kesehatan, dan kelestarian, lalu siapa lagi? Alhamdulillah, Pacitan telah memberikan contoh bagaimana masyarakat bisa berkolaborasi, saling percaya, dan mengelola sampah bukan hanya untuk dikurangi atau digunakan kembali, tetapi menjadi sesuatu yang lebih bernilai," tuturnya.
Masyarakat juga diajak untuk menginternalisasi budaya bersih sebagai bagian dari identitas kepribadian bangsa.
"Mari kita bangun budaya hidup bersih and sehat sebagai bagian dari karakter bangsa. Orang Jawa punya ungkapan yang sangat baik, 'Resik kuwi sehat, sehat kuwi berkah.' Bersih itu sehat, sehat itu berkah," ajaknya.
Lebih lanjut, lulusan S2 Nanyang Technological University (Singapura) tersebut menguraikan keberhasilan tata kelola limbah di TPS 3R Sidomakmur.
Tempat tersebut membuktikan bahwa pemilahan materi organik dan anorganik yang tepat dapat mendatangkan banyak kemanfaatan.
"Ternyata sampah bukan hanya dipilah. Sampah organik menghasilkan pupuk, kemudian menghasilkan maggot untuk pakan budidaya lele, dan hasilnya dapat mendukung dapur Makan Bergizi Gratis bagi anak-anak kita. Inilah pola distribusi yang berkelanjutan dan saling menguatkan. Bahkan sampah plastik pun masih bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang lebih produktif," jelasnya.
Saat ini, TPS 3R Sidomakmur memiliki kapasitas pengolahan hingga 10 ton per hari dan mampu mengelola sekitar 5 ton sampah saban hari.
Operasional fasilitas ini dijalankan secara swadaya oleh 14 orang yang didominasi oleh anggota karang taruna dan generasi muda.
Sistem kerja di TPS 3R Sidomakmur tidak berhenti pada pemilahan, melainkan berlanjut pada hilirisasi produk.
Limbah organik diproses menjadi pupuk dan media budidaya maggot pakan lele guna mendukung rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, limbah anorganik didaur ulang menjadi aneka produk yang bernilai ekonomis di pasaran.
Inovasi ini menjadi bagian dari pengembangan ekonomi sirkular yang berpotensi ditingkatkan menuju teknologi pemanfaatan sampah menjadi energi (waste to energy).
"Saya bangga karena banyak generasi muda yang tidak malu turun tangan mengelola sampah. Mereka menjaga lingkungan sekaligus memperoleh penghasilan dan kesejahteraan. Inilah contoh nyata bahwa menjaga lingkungan juga bisa menghadirkan manfaat ekonomi," ungkapnya.
Solusi Kendala Operasional Lapangan
Kendati demikian, aktivitas operasional di lapangan masih menemui beberapa hambatan teknis.
Dalam sesi dialog, Ketua TPS 3R Sidomakmur, Jaidin, mengapresiasi peningkatan kesadaran warga dalam memilah limbah rumah tangga.
Namun, armada pengangkut yang kerap rusak menjadi kendala utama dalam memaksimalkan pelayanan harian.
"Alhamdulillah masyarakat sudah semakin sadar mengelola sampah. Kendala kami saat ini adalah kendaraan operasional yang sudah sering rusak, sehingga proses pengangkutan sampah menjadi kurang maksimal. Kami berharap ada dukungan agar pelayanan kepada masyarakat semakin baik," ujar Jaidin.
Merespons kendala tersebut, Edhie Baskoro langsung menyerahkan bantuan satu unit motor roda tiga serta peralatan penunjang operasional.
Dukungan ini diharapkan mampu mengoptimalkan kapasitas pelayanan TPS 3R Sidomakmur dalam melayani masyarakat.
Langkah kecil yang konsisten diyakini akan membawa dampak besar bagi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan ekonomi.
Agenda sosialisasi ini turut dihadiri oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, serta Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Madya Wisti Noviani, SH., M.Si.
Hadir pula Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pacitan Cicik Roudlotul Jannah, ST., MM, dan Camat Pacitan Dita Widiapsari, S.STP., M.Si.
Jajaran pemerintahan desa diwakili Lurah Sidoharjo Andung Ardi Saputra, S.STP, bersama sejumlah anggota DPRD Kabupaten Pacitan seperti Baginda Rahardian Pratama, Anung Dwi Ristanto, Wiwit BG, dan Willy Rizky Cahaya.