Vaksin Influenza Lindungi Anak dari Risiko Komplikasi Flu

Share

Vaksin flu merupakan salah satu metode paling efektif untuk memproteksi anak dari infeksi influenza. Langkah pencegahan ini krusial guna menghindari berbagai komplikasi kesehatan yang berbahaya.

Dikutip dari HaiBunda, sebuah riset dalam jurnal JAMA Pediatrics di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa waktu kelahiran anak memengaruhi potensi mereka terpapar flu. Anak yang lahir pada musim panas (Juni-Agustus) di AS lebih rentan terkena flu karena sering melewatkan vaksinasi saat pemeriksaan rutin.

Sebaliknya, anak yang lahir pada musim gugur (September-November) cenderung lebih terlindungi. Hal tersebut terjadi karena jadwal kontrol rutin mereka bertepatan dengan periode pemberian vaksin flu tahunan.

Kondisi di negara empat musim ini berbeda dengan di Indonesia. Faktor bulan kelahiran tidak secara langsung memengaruhi risiko biologis anak terhadap flu, melainkan lebih menyoroti pentingnya ketepatan waktu pemberian vaksin sesuai rekomendasi.

Menurut informasi dari Kemenkes RI, penyakit flu berpotensi memicu komplikasi serius. Pemberian vaksinasi bermanfaat untuk menekan risiko infeksi serta meringankan gejala yang muncul dibandingkan dengan anak yang belum divaksin.

Studi yang dirilis dalam jurnal Pediatrics turut menegaskan bahwa vaksin flu mampu menurunkun risiko kematian akibat influenza pada anak yang awalnya sehat. American Academy of Pediatrics (AAP) periode 2017–2018 juga mengimbau orang tua memastikan anak mereka mendapat vaksinasi sesuai jadwal.

Imunisasi influenza dapat dimulai sejak bayi menginjak usia 6 bulan. Proses ini kemudian dilanjutkan setahun sekali mulai umur 18 bulan sampai 18 tahun.

Berdasarkan Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2024, penyuntikan pertama untuk anak usia 6 bulan hingga 8 tahun diberikan sebanyak 2 dosis. Jarak antara kedua dosis tersebut adalah 4 minggu.

Bagi anak berumur 9 tahun ke atas, mereka cukup menerima 1 dosis untuk penyuntikan pertama. Setelah itu, pengulangan vaksin dilakukan setiap satu tahun sekali menggunakan jenis vaksin yang tersedia.

Faktor Risiko dan Gejala Influenza

Anak-anak memiliki risiko lebih tinggi tertular flu jika berada di dekat orang yang terinfeksi, belum divaksin, atau jarang mencuci tangan setelah memegang fasilitas umum.

Kondisi medis tertentu pada anak juga dapat memperbesar peluang mereka menjalani rawat inap di rumah sakit. Komplikasi yang diwaspadai meliputi pneumonia, dehidrasi, sinusitis, infeksi telinga, hingga perburukan asma atau penyakit jantung.

Flu menyerang area saluran pernapasan, namun efeknya menjalar ke seluruh tubuh. Gejala yang patut diwaspadai meliputi demam tinggi, nyeri tubuh, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk, serta pilek.

Beberapa anak kadang mengalami gejala tambahan seperti mual, muntah, dan diare. Mayoritas anak dapat pulih dalam satu minggu, tetapi rasa lemas yang tersisa membuat mereka butuh istirahat hingga 3-4 minggu.

Proses identifikasi influenza pada balita sering kali tidak mudah karena kemiripannya dengan infeksi virus lain.

"Influenza kadang sulit dibedakan dari infeksi virus lainnya," ujar dokter spesialis penyakit infeksi Rachel Orscheln, MD, dikutip dari The Bump.

Dokter dapat menjalankan pemeriksaan laboratorium lanjutan jika diagnosis awal belum dapat dipastikan.

Langkah Pencegahan Tambahan

Selain mengandalkan vaksinasi, proteksi anak dari penularan virus dapat dimaksimalkan melalui kebiasaan hidup bersih sehari-hari.

Orang tua disarankan melatih anak mencuci tangan dengan sabun secara rutin dan menerapkan etika batuk atau bersin yang benar. Anak juga sebaiknya dilarang berbagi alat pribadi seperti gelas atau sendok, serta tidak menyentuh wajah sebelum membersihkan tangan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author