Badan Geologi Luruskan Hoaks Letusan Gunung Anak Krakatau
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan rekaman video yang viral di media sosial mengenai letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dari atas kapal adalah informasi bohong atau hoaks. Kepastian tersebut disampaikan di Jakarta pada Sabtu, 4 Juli 2026, guna menanggapi keresahan masyarakat terkait aktivitas gunung api aktif tipe A yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan tersebut. Selain menyatakan rekaman itu bukan video erupsi saat ini, otoritas terkait mencatat gunung tersebut sebenarnya mengalami dua kali erupsi berskala rendah pada bulan ini, yaitu pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB dan 3 Juli 2026 pukul 11.50 WIB.
Pihak Badan Geologi juga meluruskan simpang siur informasi mengenai jarak aman dan menyatakan bahwa zona bahaya yang berlaku saat ini bukanlah sejauh 5 kilometer.
"Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan," kata Lana Saria, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi saat menjelaskan kondisi awal peningkatan status dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) yang didasarkan pada data kegempaan vulkanik dan inflasi tubuh gunung. Lana Saria kemudian memberikan klarifikasi lanjutan mengenai batas jarak aman terbaru yang wajib dipatuhi oleh seluruh pihak di kawasan perairan tersebut.
"Rekomendasi resmi yang berlaku saat ini adalah masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Lana Saria. Berdasarkan catatan sejarah dari Badan Geologi, gunung api ini pernah memicu tsunami besar pada tahun 1883 serta longsoran tubuh gunung yang menyebabkan tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018, namun saat ini masyarakat pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap tenang karena aktivitas magmatik terpantau berenergi rendah.