Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Siaga Level Tiga
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral resmi menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga sejak Kamis, 2 Juli 2026, pukul 16.30 WIB akibat lonjakan aktivitas vulkanik.
Peningkatan status tersebut memicu imbauan kewaspadaan bagi warga pesisir serta munculnya video hoaks di media sosial mengenai kondisi letusan gunung api tersebut.
Kepala Bidang Prevention dan Kesiapsiagaan Strategi BPBD Pandeglang Acep Firmansyah menjelaskan bahwa pihaknya telah meneruskan peringatan dini kepada seluruh aparatur wilayah dan warga di sepanjang garis pantai demi menjaga keselamatan.
"Kita sudah menyampaikan peringatan waspada erupsi Gunung Anak Krakatau kepada masyarakat, aparatur kecamatan hingga desa," kata Acep Firmansyah di Pandeglang, dilansir Antara, Sabtu (4/7/2026).
Acep menambahkan situasi di pesisir pantai Pandeglang saat ini terpantau kondusif dan aktivitas harian seperti perdagangan di pasar hingga layanan kesehatan tetap berjalan normal.
"Kami minta nelayan, wisatawan, dan warga agar tidak mendekati kawasan GAK, karena khawatir terdampak bebatuan pijar. Petugas merekomendasikan radius 5 kilometer dari gunung," ucap Acep.
Seorang pedagang di Labuan, Suherman, menyatakan masyarakat setempat tetap menjalankan aktivitas secara biasa karena telah terbiasa menghadapi fluktuasi aktivitas vulkanik tersebut.
"Kami tetap tenang, namun tetap waspada, serta jangan sampai terulang kembali tsunami 2018 hingga ratusan orang meninggal dan ribuan orang mengungsi," kata Suherman, warga Labuan Pandeglang.
Di tengah peningkatan status ini, beredar sebuah video berdurasi 10 detik di media sosial yang memperlihatkan letusan dahsyat pada malam hari dari atas kapal, namun petugas memastikan rekaman tersebut bukan kondisi riil saat ini.
Petugas Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Andi Suwardi, mengonfirmasi erupsi terakhir hanya tercatat pada Jumat, 3 Juli 2026, sekitar pukul 15.00 WIB dengan tinggi kolom abu 200 meter.
"Video yang beredar itu hoaks atau bukan menggambarkan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini. Aktivitas erupsi yang terjadi sekarang tidak seperti yang terlihat dalam video tersebut," kata Andi saat dikonfirmasi, Sabtu (4/7/2026).
Andi menekankan bahwa masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius aman dari pusat erupsi untuk menghindari potensi bahaya sektoral.
"Status Gunung Anak Krakatau masih Level III atau Siaga. Kami mengimbau masyarakat, nelayan maupun wisatawan agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung," kata Andi.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ikut memberikan klarifikasi teknis mengenai video yang beredar, menyebutkan bahwa visual tersebut merupakan hasil rekayasa digital.
“Jika diperhatikan, bentuk gunung bukanlah bentuk gunung Anak Krakatau, dalam layar HP di atas kapal pun tidak terlihat merekam adanya Letusan, sehingga besar kemungkinan video ini adalah penyalahgunaan AI,” tegas PVMBG dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Lembaga tersebut menyayangkan pemanfaatan teknologi yang justru memicu kecemasan di kalangan publik.
“Kecerdasan buatan sebaiknya digunakan untuk hal-hal baik, bukan untuk Meresahkan Masyarakat,” pungkasnya.
Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun merespons kegaduhan informasi tersebut dengan meminta masyarakat menyaring seluruh berita kebencanaan sebelum membagikannya kembali.
"Masyarakat kami minta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya. Pastikan setiap informasi diperoleh dari instansi resmi yang berwenang agar tidak menimbulkan keresahan," ujar Yuni.
Yuni meminta masyarakat memanfaatkan saluran informasi yang disediakan pemerintah untuk memverifikasi setiap kabar perkembangan kondisi vulkanik.
"Apabila memperoleh informasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau, lakukan pengecekan terlebih dahulu melalui kanal resmi Badan Geologi, BMKG, BPBD, maupun pemerintah. Jangan sampai informasi yang belum benar justru menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat," kata Yuni.
Sementara itu, Camat Rajabasa Firdaus Rusli mengungkapkan adanya kendala fasilitas pada pos pengamatan di Lampung Selatan akibat proses renovasi fisik gedung yang baru saja rampung.
"Bangunannya sudah selesai dibangun. Sesuai rencana awal, pembangunan fisik seharusnya satu paket dengan penyediaan fasilitas pemantauan, termasuk perangkat CCTV. Namun sampai sekarang peralatan barunya belum dikirim dari Bandung," ujarnya, Jumat (4/7/2026).
Firdaus menyatakan bahwa koordinasi dengan otoritas pusat terus berjalan untuk mempercepat pengadaan perangkat pemantauan digital yang baru.
"Untuk alasan teknis mengapa belum dikirim dari Bandung, kami juga belum mendapatkan informasi secara rinci karena itu merupakan kegiatan dari pemerintah pusat," katanya.
Operasional Pos Pemantauan Hargopancuran untuk sementara waktu dialihkan menggunakan sistem manual dengan bersandar pada validasi data dari Pos Anyer.