Kebakaran TPA Jatiwaringin Tangerang Meluas hingga 15 Hektare

Share

Kebakaran hebat melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, yang areanya terus meluas hingga mencapai estimasi 15 hektare pada Sabtu (4/7/2026).

Dilansir dari Detikcom, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mengerahkan 19 unit mobil pemadam kebakaran, 100 personel, serta dua unit helikopter water bombing milik BNPB untuk mengatasi kobaran api yang kian menyebar akibat hembusan angin kencang.

"Pos Mauk menerima laporan dari petugas TPA bahwa adanya penyalaan api di atas tumpukan sampah," kata perwakilan BPBD Kabupaten Tangerang.

Petugas di lapangan menghadapi kendala cuaca berupa angin kencang yang memicu perluasan titik api di area penampungan sampah tersebut secara cepat.

"Berhubung hembusan angin yang cukup kencang, api menjalar dengan cepat dan kebakaran semakin meluas di area TPA," katanya.

Upaya lokalisasi titik api terus dilakukan secara masif oleh tim gabungan dengan membagi penempatan unit pemadam guna mencegah dampak yang lebih masif.

"Pemadaman menggunakan unit mobil pemadam dan pompa alkon. Unit disebar untuk mencegah api meluas. Pemadaman langsung ke titik api juga dilakukan menggunakan dua unit helikopter BNPB," ujarnya.

Deputi Gakkum KLH, Rizal Irawan, yang mendampingi Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono saat meninjau lokasi, memaparkan data perluasan lahan yang terdampak.

"Mohon izin, Pak Wamen, menjelaskan kondisi terakhir terkait objek pemantauan yaitu TPA Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Luas TPA ini kurang lebih 33 hektare," ujar Rizal Irawan.

Rizal menambahkan bahwa area yang terbakar melonjak drastis dari laporan awal kejadian di lapangan.

"Dari luas 33 hektare, luas yang terbakar awalnya 3 hektare, namun hingga tadi malam estimasinya sudah mencapai 15 hektare per 3 Juli pukul 20.00 atau 21.00 WIB," jelasnya.

Berdasarkan pantauan drone thermal, terdeteksi ratusan titik panas di dalam tumpukan sampah setinggi 20 hingga 30 meter yang berdekatan langsung dengan pemukiman warga.

"Kita bisa lihat sebaran titik api ketika menggunakan drone RGB, sebarannya ada di banyak tempat. Puluhan atau bahkan ratusan titik api. Kepulan asap tebal dan masif. Selain itu, karena dekat dengan permukiman, penanganan sangat tergantung pada arah angin," tutur Rizal.

Ketinggian tumpukan sampah menjadi tantangan tersendiri bagi personel karena api berpotensi masih aktif di bagian dalam gunung sampah.

"Kenapa kita meminta bantuan Manggala Agni? Karena dengan ketinggian 20-30 meter, api di permukaan mungkin sudah padam, tapi di kedalaman kita tidak tahu api itu menyala di mana," paparnya.

Gas metana yang terkandung di dalam TPA juga meningkatkan risiko bahaya penanganan dibandingkan kebakaran lahan gambut biasa.

"Ini kita anggap lebih rawan dibandingkan gambut. Gambut kedalamannya hanya 4-5 meter, sedangkan di sini bisa mencapai 20-30 meter. Selain itu, di sini ada kandungan metana, sehingga kerawanannya sangat tinggi," kata Rizal.

Di sisi lain, penanganan di lokasi sempat terhambat oleh kerumunan warga sekitar yang datang untuk melihat proses pemadaman karena masa liburan sekolah.

"Memang semenjak hari pertama kami bertugas di sini sampai hari kelima ini, banyak masyarakat yang ingin melihat ke sini, Pak Wamen," ucap Indra.

Kapolresta Tangerang Kombes Andi Muhammad Indra Waspada menyatakan bahwa sebagian masyarakat bahkan melayangkan protes ketika diminta menjauh oleh petugas.

"Dikarenakan saat ini musim libur, bahkan resistensinya tinggi kepada petugas kami. Mereka justru komplain, 'Pak ini kan hari libur Pak, kalau Bapak ke mal, saya cuma bisa melihat ini'," ujar Indra.

Untuk mengantisipasi hal itu, kepolisian telah mendirikan pos pengamanan berlapis di sekitar area luar TPA Jatiwaringin.

"Untuk personel, kami laporkan kepada Pak Wamen, kami sudah memberikan sebanyak empat titik pos pengamanan berlapis. Ada di sebelah kiri dua dan sebelah kanan dua," katanya.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono secara tegas meminta masyarakat untuk segera meninggalkan kawasan terdampak.

"Kami mohon masyarakat sekitar agar kebakaran TPA ini tidak menjadi tontonan warga. Ini bukan hiburan, tidak perlu ada yang ditonton," ujar Diaz.

Diaz memperingatkan bahaya kesehatan dari asap tebal pencemaran sampah yang bersifat karsinogenik dan dapat memicu ISPA.

"Semakin warga mendekat, semakin besar kemungkinan terkena penyakit, termasuk ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan potensi karsinogenik. Tadi saya minta Kapolres untuk memberikan imbauan agar menjauhi area TPA yang sedang mengalami bencana ini," tegas Diaz.

Pemerintah Kabupaten Tangerang kini telah menetapkan status tanggap darurat guna mempercepat proses penanggulangan kebakaran.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author