Hiperemesis Gravidarum Tingkatkan Risiko Komplikasi Persalinan
Kondisi mual dan muntah berat pada ibu hamil atau hiperemesis gravidarum (HG) berpotensi memicu berbagai komplikasi serius selama masa kehamilan hingga proses persalinan. Temuan ini diperoleh berdasarkan hasil penelitian dari Stanford Medicine yang menganalisis data dari 2,5 juta kelahiran di California, Amerika Serikat. Dikutip dari HaiBunda, riset yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology ini menjadi studi berbasis populasi besar pertama di AS yang mengupas bahaya mual dan muntah ekstrem pada kehamilan.
Gejala hiperemesis gravidarum berbeda dengan morning sickness biasa yang umumnya mereda setelah melewati trimester pertama.
Ibu hamil yang didiagnosis mengalami HG berisiko kehilangan berat badan secara signifikan serta mengalami dehidrasi berat yang memicu ketosis urine. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) mencatat bahwa kondisi medis ini memengaruhi sekitar 3 persen dari total kehamilan.
Penulis utama studi sekaligus mahasiswa pascasarjana Stanford Medicine di bidang epidemiologi, Rebecca Gardner, memberikan penjelasan terkait karakteristik gangguan kehamilan ini. "Hiperemesis gravidarum bukan hanya mual pagi yang parah, ini cukup parah hingga menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan yang signifikan," kata Rebecca Gardner.
Studi ini dipimpin pula oleh penulis senior Julia Fridman Simard selaku profesor madya epidemiologi, serta Gary Shaw yang merupakan profesor pediatri. Tim peneliti membandingkan tingkat komplikasi antara kelompok ibu hamil yang harus menjalani rawat inap akibat HG dengan kelompok kehamilan yang tanpa rawat inap. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi kuat antara kasus hiperemesis gravidarum dengan peningkatan bahaya kesehatan bagi ibu maupun janin.
"Kami menemukan bahwa hiperemesis gravidarum dikaitkan dengan risiko lebih tinggi untuk kelahiran prematur, anemia, bayi yang lebih kecil dari yang diharapkan, preeklampsia, hipertensi gestasional, dan abrupsio plasenta. Rawat inap untuk HG benar-benar menandai kehamilan sebagai berisiko lebih tinggi terhadap berbagai komplikasi serius," tulis Rebecca Gardner.
Para peneliti menduga komplikasi tersebut dipicu oleh terganggunya pemenuhan nutrisi penting akibat muntah yang terjadi secara terus-menerus. Ibu hamil dengan HG kerap kesulitan mengonsumsi makanan dan cairan, termasuk menyerap zat penting seperti asam folat yang krusial bagi perkembangan awal janin. Kekurangan asupan gizi ini disinyalir mengganggu pembentukan dan perkembangan plasenta sejak awal masa kehamilan.
Dampak lainnya adalah penurunan berat badan drastis, di mana riset menemukan sekitar seperempat pasien HG kehilangan lebih dari 15 persen bobot tubuh sebelum hamil.
"Kita tahu dari studi lain bahwa perempuan dengan HG tidak mendapatkan nutrisi sebanyak yang seharusnya, "Ini dapat mengganggu perkembangan plasenta, yang menurut kami menyebabkan risiko lebih tinggi untuk beberapa hasil yang kami cari, seperti preeklamsia dan bayi yang lebih kecil dari yang diharapkan saat lahir," kata Gardner.
Ibu hamil disarankan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami muntah tiada henti, lemas, berat badan turun, serta muncul tanda dehidrasi seperti urine berwarna pekat.