Mengenal Potensi Kaktus Pir Berduri Sebagai Bahan Superfood Masa Depan
Kaktus yang selama ini dikenal sebagai tanaman hias atau tumbuhan gurun kini mulai dilirik sebagai superfood di Jepang karena kandungan gizinya yang melimpah. Para petani di Jepang mulai mengolah kaktus pir berduri (prickly pear cactus) menjadi aneka hidangan sehat, seperti quiche, pizza toast, sate, tempura, hingga mi dingin ala China. Seperti dilansir dari Detik Health, salah satu petani kaktus konsumsi di Jepang, Miki Deguchi, meyakini bahwa tanaman ini berpotensi menjadi bahan pangan yang umum dikonsumsi di negaranya.
Kaktus dari genus Opuntia ini semakin diminati di Jepang karena kaya mineral, serat pangan, dan nutrisi lainnya, serta memiliki rasa ringan dan segar yang bisa dikonsumsi tanpa dimasak.
Secara umum, kaktus pir berduri merupakan sumber serat, vitamin, dan mineral yang baik bagi tubuh, meskipun kandungan gizinya dapat sedikit berbeda tergantung pada varietasnya. Dalam 1 cangkir atau sekitar 149 gram kaktus pir berduri mentah terkandung 61 kkal kalori, 1 gram protein, 1 gram lemak, 14 gram karbohidrat, dan 5 gram serat.
Satu cangkir takaran tersebut juga mampu memenuhi sekitar 30 persen Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian magnesium, 23 persen AKG vitamin C, 7 persen AKG kalium, dan 6 persen AKG kalsium. Kandungan serat larut dan tidak larut di dalamnya memenuhi sekitar 19 persen kebutuhan serat harian yang berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Selain itu, kombinasi magnesium, kalium, dan kalsium membantu menjaga tekanan darah tetap sehat, sementara vitamin C mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh.
Riset dan Manfaat bagi Kesehatan
Sejumlah penelitian modern mulai menunjukkan manfaat kesehatan dari tanaman ini, yang melandasi berdirinya Research Initiatives Center for Cactus and Succulent Plant Research oleh Chubu University pada tahun 2024 di Kota Kasugai, Prefektur Aichi.
Riset pada pusat penelitian tersebut menunjukkan bahwa tikus yang diberi pakan bubuk kaktus pir berduri mengalami peningkatan kadar mucin, yaitu protein pelapis usus yang membantu menghalangi virus. "Saya yakin kaktus memiliki potensi besar sebagai pangan fungsional," ujar Mamoru Tanaka, profesor madya bidang pangan dan gizi di Chubu University yang terlibat dalam penelitian tersebut. Konsumsi kaktus pir berduri juga diklaim berpotensi menjaga kesehatan kulit dan rambut berkat kandungan vitamin C, pigmen betalain, serta senyawa antioksidan dan antiperadangan.
Biji dan kulit buahnya mengandung asam lemak tak jenuh ganda yang melindungi dari kerusakan akibat stres oksidatif, meskipun klaim ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut pada manusia.
Selain itu, kandungan serat larut pektin dalam tanaman ini dinilai berpotensi membantu mengontrol kadar gula darah serta mengurangi risiko komplikasi diabetes. Sebuah tinjauan penelitian tahun 2022 menunjukkan konsumsi kaktus ini berpotensi menurunkan kadar gula darah puasa, meski hasilnya masih dipengaruhi oleh bentuk konsumsi dan bagian tanaman yang digunakan.
Sifat antiinflamasi dan antioksidan pada buah kaktus pir berduri juga dilaporkan dalam tinjauan riset tahun 2023 berpotensi memberikan efek positif dalam menjaga struktur dan fungsi organ hati.
Efek Samping dan Keamanan Konsumsi
Kaktus pir berduri aman dikonsumsi jika diolah dengan benar, namun asupan yang berlebihan dapat memicu efek samping akibat tingginya serat seperti diare, gangguan pencernaan, perut kembung, dan mual. Ibu hamil dan menyusui disarankan menghindari konsumsi suplemen atau ekstrak kaktus pir berduri terlebih dahulu karena data mengenai keamanan dan efek sampingnya masih terbatas. Bagian luar buah kaktus ini memiliki glochids atau duri-duri halus yang harus dibersihkan secara menyeluruh sebelum dikonsumsi agar tidak melukai kulit atau tertelan.
Pada tahun 2017, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) telah menyoroti kaktus pir berduri sebagai sumber pangan bergizi yang tangguh menghadapi perubahan iklim.
Tanaman yang mampu tumbuh di daerah kering ini telah dibudidayakan di sekitar 30 negara termasuk Meksiko, dan kini popularitasnya meluas di Jepang hingga mulai dijual di jaringan supermarket Watahan Super Center di Prefektur Nagano.