Inggris Hadapi Meksiko di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Tim nasional Inggris bersiap menghadapi tantangan berat melawan salah satu tuan rumah, Meksiko, dalam pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca pada Minggu (5/7) atau Senin (6/7/2026) pagi WIB.
Pertemuan di stadion bersejarah tersebut menjadi momen pertama bagi Inggris sejak laga perempat final Piala Dunia 1986 yang diwarnai gol kontroversial legenda Argentina, Diego Maradona.
Manajer Inggris Thomas Tuchel meyakini keadilan kosmis atau faktor karma akan membantu anak asuhnya membalikkan keadaan serta meruntuhkan keangkeran stadion yang terletak di ketinggian lebih dari 2.200 meter di atas permukaan laut tersebut.
"Ya, takdir akan menghadiahi kami kali ini. Kami akan mengambil kembali apa yang hilang. Ini masalah karma, dan karma itu akan datang berpihak pada kami untuk membalikkan keadaan," ujar Tuchel antusias, seperti dilansir ESPN.
Pelatih asal Jerman tersebut mengingat kembali momen Piala Dunia masa kecilnya saat Argentina mengalahkan Inggris 2-1 melalui gol solo magis dan gol "Tangan Tuhan" yang dicetak oleh Maradona.
"Saya tentu ingat Piala Dunia zaman Maradona. Dua gol ke gawang Inggris, satu gol dari aksi dribel jenius dan satu gol lagi yang jelas tidak akan pernah disahkan jika ada teknologi zaman sekarang," katanya.
Tuchel juga menambahkan antusiasmenya menghadapi tekanan dari seluruh suporter tuan rumah di stadion ikonik tersebut.
"Saat itu saya baru berusia 13 tahun dan Jerman [Barat] menghadapi Argentina di laga final. Azteca adalah stadion yang sangat ikonik," kenang Tuchel.
"Saya sangat bersemangat menyambut laga ini. Menghadapi Meksiko di Meksiko adalah pertandingan yang ikonik, tetapi di sana kami akan bertanding melawan energi dari seluruh masyarakat di negara mereka," imbuhnya.
Selain tekanan suporter lokal, skuad The Three Lions dihadapkan pada tipisnya kadar oksigen di dataran tinggi Mexico City, sehingga membuat Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) berkonsultasi dengan Tim Olimpiade Britania Raya dan mempercepat kedatangan tim pada Jumat (3/7).
"Laju bola akan sangat berbeda di dataran tinggi, mungkin bisa meluncur lima pekarangan lebih jauh. Ini situasi yang sulit dan kami butuh pengalaman merasakannya langsung," jelas Tuchel.
Langkah antisipasi ini diambil sebagai jalan tengah dari rekomendasi medis karena aturan regulasi turnamen tidak mengizinkan opsi kedatangan di menit-menit terakhir menjelang sepak mula.
"Rekomendasi medisnya adalah Anda harus tiba 10 hari sebelum laga, yang mana terlalu lama bagi kami, atau tiba di menit-menit terakhir menjelang sepak mula, namun opsi kedua tidak diizinkan regulasi. Jadi, kami mengambil jalan tengah di antara keduanya, meski faktor ketinggian ini akan tetap menjadi kerugian bagi kami dan keuntungan besar bagi Meksiko," terang pelatih asal Jerman ini.
Inggris sendiri melaju ke babak 16 besar setelah menang dramatis 2-1 atas DR Kongo melalui dua gol Harry Kane, setelah sebelumnya tampil kurang meyakinkan di fase grup saat melawan Kroasia, Ghana, dan Panama.
"Kami sudah mengantisipasi hal tersebut. Apa yang bisa kami lakukan? Tentu saja kami akan membawa perlengkapan khusus [seperti penyumbat telinga/ear plugs], tetapi intinya saya siap menghadapi segala situasi," pungkas Tuchel.
Kondisi performa Inggris yang belum stabil mendapat sorotan dari mantan penyerang Burnley, Queens Park Rangers, dan Southampton, Charlie Austin, yang menilai pemain lain harus meningkatkan kontribusi agar tidak hanya bergantung pada Harry Kane yang sudah mencetak lima gol.
"Menuju laga yang satu ini, hal yang terpenting adalah menemukan cara untuk menang dan meraihnya dengan cara apapun," ujarnya dikutip Sky Sports.
Meksiko yang dilatih Javier Aguirre saat ini memiliki rekor impresif dengan menyapu bersih empat kemenangan dan belum kebobolan, ditambah catatan sejarah yang hanya dua kali kalah dari 89 pertandingan di Azteca sejak 1966.
"Ada begitu banyak pembicaraan soal Azteca dan ketinggiannya, tapi pada akhirnya, mayoritas pemain perlu menaikkan permainannya dan mendekati level Harry Kane," kata Austin.