Aktivitas Manufaktur Indonesia Juni 2026 Alami Kontraksi Terendah setahun
Kondisi industri tekstil nasional dilaporkan sedang memasuki masa sulit akibat lonjakan harga bahan baku serta melemahnya daya saing di pasar domestik maupun internasional, seperti dikutip dari Bloomberg Technoz pada Jumat (3/7/2026).
Keterpurukan ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur nasional yang mengalami kontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026, menurun dari posisi Mei 2026 yang berada di level ekspansif 50.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta menjelaskan bahwa industri manufaktur, khususnya tekstil, menghadapi tekanan berat dari sisi internal maupun eksternal.
Faktor-faktor seperti kenaikan harga bahan baku, gejolak nilai tukar, tingginya suku bunga, hingga harga gas industri yang mahal menjadi beban utama bagi produsen.
"Kenaikan harga bahan baku, energi, dan suku bunga langsung berimbas negatif pada daya saing kami. Jangankan bersaing untuk pasar ekspor, di dalam negeri saja pemerintah belum bisa menciptakan iklim persaingan yang kondusif antar-pelaku usaha," ujar Redma saat dihubungi pada Jumat (3/7/2026).
Menurut Redma, situasi ini semakin diperparah oleh banjirnya barang impor dengan harga dumping serta maraknya aktivitas importasi ilegal yang menguasai pasar domestik.
Ia menilai penurunan indeks manufaktur ini berakar pada kebijakan perlindungan produk lokal yang setengah hati serta belum mumpuninya integrasi ekosistem industri di dalam negeri.
Struktur industri nasional dinilai rapuh karena masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor, padahal bahan baku tersebut sebenarnya tersedia di dalam negeri.
"Selama dukungan kebijakan pemerintah terhadap produk lokal dan integrasi ekosistem industrinya masih 'nanggung', nilai PMI ini tidak akan konsisten berada dalam zona ekspansif. Dampaknya, tidak akan ada investasi baru yang signifikan di sektor manufaktur," tegas Redma.
Ia juga menambahkan bahwa inkonsistensi regulasi dan lemahnya penegakan aturan di lapangan membuat sektor manufaktur sangat rentan terhadap guncangan pasar, baik di tingkat domestik maupun global.
“APSyFI berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk membenahi struktur industri ini demi menyelamatkan sektor tekstil nasional dari keterpurukan yang lebih dalam.” katanya.
Aktivitas manufaktur Indonesia pada Juni mengalami kontraksi akibat penurunan permintaan, di mana S&P Global melaporkan PMI untuk periode Juni ada di 46,9, turun dari posisi Mei sebesar 50.
Skor PMI di bawah 50 menandakan aktivitas yang mengalami kontraksi, dan angka 46,9 menjadi yang terendah dalam setahun terakhir.
"Permintaan baru (new orders) mengalami penurunan terdalam sejak April tahun lalu. Beban kerja yang menurun ikut menyebabkan penurunan pembelian bahan baku dan penciptaan lapangan kerja," ungkap keterangan tertulis S&P Global.
Dari sisi harga, terjadi kenaikan biaya input tertinggi sejak September 2013, sehingga dunia usaha menaikkan harga produk dengan laju tercepat dalam hampir 13 tahun.
Permintaan baru tercatat turun untuk kali pertama dalam tiga bulan akibat penurunan daya beli konsumen yang dipicu oleh harga melambung tinggi.