Jepang dan India Perluas Kerja Sama Ekonomi Demi Hadapi Guncangan Geopolitik

Share

Perdana Menteri India Narendra Modi dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyepakati perluasan kemitraan ekonomi serta keamanan maritim dalam pertemuan bilateral di India pada Jumat, 3 Juli 2026, guna mendiversifikasi hubungan dagang demi mengurangi ketergantungan pada China dan Amerika Serikat. Hubungan bilateral ini, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, ditandai dengan penerbitan empat pernyataan bersama yang mencakup berbagai sektor mulai dari kecerdasan buatan (AI), ketahanan energi, hingga penandatanganan lebih dari 100 perjanjian kerja sama pelaku bisnis termasuk sektor semikonduktor dan proyek misi ke bulan. "Saya baru saja disebut sebagai 'seorang adik perempuan yang cantik'," ujar Takaichi sambil tersenyum dalam pidato singkatnya setelah pertemuan bilateral tersebut.

Kunjungan resmi pertama Takaichi ini juga mengonfirmasi kesiapan korporasi Jepang untuk menginvestasikan dana sekitar 2 triliun yen di India, yang menjadi bagian dari komitmen tahun 2025 untuk menggelontorkan investasi 10 triliun yen dalam kurun waktu sepuluh tahun.

"Dalam pembicaraan kami sebelumnya, kami berjanji untuk bekerja sama layaknya kakak dan adik," tutur Takaichi, Perdana Menteri Jepang. Sektor kerja sama ekonomi kedua negara kini menjadi jauh lebih beragam dari yang sebelumnya didominasi oleh industri otomotif, dengan melibatkan partisipasi aktif dari usaha kecil-menengah (UKM) serta perusahaan rintisan.

"Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi lonjakan minat yang masif dari perusahaan-perusahaan Jepang terhadap India," ungkap Hiramatsu, ketua di The Japan Research Institute sekaligus mantan Duta Besar Jepang untuk India. Takaichi mendatangi India dengan didampingi oleh lebih dari 50 perwakilan bisnis papan atas Jepang, termasuk pemimpin dari Suzuki Motor Corp, sementara konglomerat India Gautam Adani dikabarkan tengah mengincar pinjaman dalam mata uang yen senilai US$1,5 miliar sebagai bagian upaya dedolarisasi.

"Jika berkaca pada sejarahnya, sebagian besar bisnis kedua negara bergerak di industri otomotif. Namun, sekarang sektornya jauh lebih beragam," tambah Hiramatsu, Ketua di The Japan Research Institute. Langkah penguatan kemitraan ini juga dipicu oleh kekhawatiran India terhadap gangguan pasokan minyak mentah akibat aksi blokade di Selat Hormuz beberapa waktu lalu yang menekan pertumbuhan ekonomi mereka.

"Agar Jepang dan India bisa memperdalam hubungan di lini ekonomi, saya rasa penting bagi bisnis skala kecil dan menengah yang membangun rantai pasok, serta perusahaan pemilik teknologi baru, untuk masuk ke India. Dan tampaknya tren tersebut mulai berjalan saat ini," jelas Hiramatsu, Mantan Duta Besar Jepang untuk India.

Meskipun kedua negara sama-sama mengkhawatirkan faktor China, Tokyo dan New Delhi mengambil pendekatan berbeda karena India masih bergantung pada Beijing untuk pasokan mesin serta bahan baku industri logam tanah jarang.

"Japang dan India harus memanfaatkan kekuatan masing-masing untuk menjadi lebih kuat dan makmur bersama di tengah gejolak internasional saat ini," tegas Takaichi, Perdana Menteri Jepang. Sebaliknya, hubungan bilateral Jepang-China berada dalam fase dingin setelah Takaichi menyulut kemarahan Beijing pada November lalu terkait spekulasi keterlibatan militer Jepang untuk membela diri jika China menyerang Taiwan. "Kedua negara, baik Jepang maupun India, sama-sama menginginkan stabilitas dan kemakmuran. Oleh karena itu, kita perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan keamanan yang kondusif bagi pertumbuhan," jelas Wadhwa, mantan Duta Besar India untuk Jepang.

Kerja sama keamanan maritim yang ditekankan oleh kedua pihak bertujuan memastikan seluruh negara di kawasan, termasuk China, mematuhi aturan tertentu.

"Kami memang berupaya memastikan bahwa seluruh negara di kawasan ini mematuhi aturan tertentu, dan itu juga mencakup China," kata Wadhwa, Mantan Duta Besar India untuk Jepang. Jepang dan India selanjutnya dipastikan akan terus menggelar latihan angkatan laut bersama di Samudra Hindia demi menjaga perdamaian regional.

"Perluasan kerja sama keamanan maritim menjadi hal yang sangat penting bagi perdamaian dan stabilitas regional," pungkas Takaichi, Perdana Menteri Jepang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author