Kawasan Ekonomi Khusus Manufaktur Ajukan Perluasan Lahan
Sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis manufaktur mengajukan perluasan lahan karena kapasitas yang tersedia sudah terpakai sepenuhnya oleh investor asing pada Jumat (3/7/2026). Tingginya minat investasi ini dilansir dari Detik Finance membuat pemerintah harus segera menambah ketersediaan lahan kawasan industri.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso di Jakarta Pusat menjelaskan bahwa perluasan kawasan menjadi kebutuhan mendesak agar Indonesia tetap mampu menampung arus investasi baru.
"Dengan usul perluasan artinya apa? Kapasitasnya itu sudah utilize semuanya, sudah terpakai, sehingga pada saat akan ada investasi masuk yang baru, investor asing yang masuk, nah ini mereka mengajukan perluasan lahan, dan rata-rata dua kali lipat," kata Susiwijono, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Susiwijono mencontohkan KEK Kendal yang saat ini menampung sekitar 140 industri dari berbagai sektor mulai dari elektronik hingga rantai pasok industri baterai telah terisi penuh. Pengelola KEK Kendal kini mengusulkan tambahan lahan sekitar 1.000 hektare, sementara kondisi serupa juga terjadi di KEK Gresik.
"Nah itu dengan luasan mereka hanya seribuan gitu, mereka sudah penuh ngajuin lagi sekarang perluasan seribu. Artinya KEK cukup dari sisi capaian untuk menarik investasi sangat bagus. Karena faktanya investor asing masih antre masuk ke situ," tutur Susiwijono, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Selain KEK Kendal dan Gresik, KEK Galang Batang di Kepulauan Riau yang berfokus pada hilirisasi bauksit juga mengusulkan perluasan hingga 2.700 hektare untuk menampung investasi smelter baru. Di samping manufaktur, pemerintah bersiap mengembangkan KEK pusat data demi mendukung transformasi digital nasional.
Saat ini, KEK Nongsa Digital Park di Batam telah menjadi pusat pengembangan industri digital dan berhasil menjaring investasi dari belasan perusahaan pusat data berskala global.
"KEK data center kan sudah ada di Nongsa, Nongsa Digital Park yang di Batam. Itu kan juga lebih dari 10 data center besar dunia sudah ada di Nongsa di Batam. Namanya KEK Nongsa Digital Park," sebut Susiwijono, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Kebutuhan pusat data nasional diperkirakan melonjak tajam dari kapasitas saat ini yang baru mencapai 600 megawatt. Grup DAMAC asal Uni Emirat Arab menjadi salah satu investor yang tengah bersiap menanamkan modal miliaran dolar AS untuk membangun kapasitas sekitar 1,2 hingga 1,3 gigawatt.
"Ada hitungannya kok, setiap 1 megawatt data center itu perlu sekian juta USS. Nah kalau 1,2 gigawatt atau 1,3 gigawatt kan berarti 1.300 kali sekian juta US$, pasti bilion US$" ungkap Susiwijono, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.