Kementan Percepat Pompanisasi untuk Mitigasi El Nino 2026

Share

Kementerian Pertanian mempercepat pelaksanaan program pompanisasi di berbagai wilayah sebagai langkah mitigasi utama dalam menghadapi potensi fenomena iklim El Nino pada Jumat (3/7/2026). Langkah antisipatif ini diambil menyusul prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang menyatakan El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat, seperti dilansir dari Detik Finance.

Upaya percepatan ini dilakukan untuk mengantisipasi perluasan dampak kekeringan di sektor pertanian. Pemerintah memprioritaskan gerakan ini agar para petani di daerah rawan tidak kehilangan musim tanam akibat penurunan curah hujan.

"Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam. Karena itu kami mempercepat berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui gerakan pompanisasi agar air tetap tersedia dan produksi pangan tetap aman," kata Amran dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).

Selain mengoptimalkan pengadaan pompa air, kementerian juga mendorong rehabilitasi jaringan irigasi serta pemanfaatan teknologi pertanian. Strategi komprehensif ini dinilai krusial di tengah target pemerintah yang sedang memacu pencapaian swasembada pangan nasional.

"Pompanisasi adalah instrumen mitigasi yang sangat efektif. Dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang tersedia, kita memastikan petani tetap bisa menanam meskipun curah hujan menurun," beber Amran, Menteri Pertanian.

Sebagai bentuk implementasi di lapangan, bantuan berupa tujuh unit pompa air telah didistribusikan kepada tujuh kelompok tani di Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu pada Senin (29/6). Wilayah tersebut diidentifikasi memiliki potensi kekeringan yang mengancam lahan seluas 1.945 hektare.

Intervensi teknologi pengairan ini diproyeksikan mampu mendongkrak potensi luas tanam di wilayah Kecamatan Sukra hingga mencapai target 3.445 hektare pada musim berikutnya. Secara akumulatif, kehadiran sekitar 200 unit pompa dari kementerian di Kabupaten Indramayu berhasil menaikkan potensi luas tanam Juni 2026 dari target awal 25 ribu hektare menjadi 41 ribu hektare.

"Bantuan pompa air ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah untuk memastikan petani tetap memiliki akses air. Dengan begitu, lahan yang berpotensi terdampak kekeringan tetap dapat ditanami sehingga produktivitas pertanian dan pendapatan petani tetap terjaga," ujar Andi Nur Alamsyah, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian.

Pihak kementerian menegaskan bahwa pengawasan terhadap dinamika perubahan iklim di seluruh daerah akan terus diperketat secara berkala. Koordinasi aktif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan kelompok tani menjadi basis optimisme dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional.

"Ini menunjukkan bahwa intervensi pompanisasi mampu menjaga bahkan meningkatkan luas tanam di tengah ancaman kekeringan," jelas Andi Nur Alamsyah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author