Terbelit Masalah Keuangan, Panca Mitra Multiperdana Ajukan Restrukturisasi Utang Bank
PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), emiten yang berafiliasi dengan Kaesang Pangarep, dilaporkan sedang menghadapi persoalan finansial yang serius. Perusahaan tersebut kini tercatat memiliki kewajiban utang kepada sejumlah pihak, dengan porsi terbesar berasal dari sektor perbankan. Dilansir dari Detik Finance, beban utang terbesar PMMP berada di PT Bank Permata Tbk dengan nilai outstanding mencapai US$ 53,12 juta atau sekitar Rp 953,39 miliar (kurs Rp 17.948), ditambah fasilitas ekstra sebesar Rp 5,49 miar.
Kewajiban besar lainnya juga tercatat pada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan nilai outstanding sebesar US$ 40,29 juta atau setara dengan Rp 723,04 miliar.
Selain itu, perusahaan mengantongi utang kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) senilai US$ 30,71 juta atau berkisar Rp 551,15 miliar. Pinjaman dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk juga terdata sebesar US$ 22,80 juta atau sekitar Rp 409,12 miliar.
PMMP turut memiliki kewajiban keuangan kepada PT Bank Maspion Indonesia Tbk sejumlah US$ 7,21 juta dan PT Bank Resona Perdania sebesar US$ 5,99 juta. Guna mengatasi tumpukan kewajiban tersebut, pihak PMMP kini sedang mengupayakan proses restrukturisasi utang.
"Saldo tersebut di atas di luar hutang bunga," tulis Manajemen PMMP dikutip dari Keterbukaan Informasi, Jumat (3/7/2026). Manajemen PMMP mengakui bahwa aktivitas operasional perseroan saat ini sangat terhambat oleh keterbatasan modal kerja. Untuk menjalankan roda bisnisnya secara normal, emiten ini memerlukan dana segar setidaknya US$ 15 juta atau setara Rp 269,11 miliar.
Akibat dari krisis modal tersebut, PMMP kini hanya bisa mengaktifkan satu unit fasilitas pabrik (plant) yang berlokasi di Situbondo.
Demi menjaga kontinuitas pengiriman ekspor, manajemen terpaksa menyiasatinya dengan membeli produk jadi dari korporasi lain. "Sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran dibelakang setelah hasil ekspor diterima oleh perseroan," jelas Manajemen PMMP. Penyusutan volume produksi ini pada akhirnya berdampak langsung pada pengurangan jumlah tenaga kerja perusahaan.
Sejak tahun 2024 sampai sekarang, PMMP tercatat telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 37 orang staf dan 79 pekerja harian, sementara 82 staf lainnya memilih mengundurkan diri.
Sebagai informasi tambahan, kepemilikan saham PMMP sebagian dikuasai oleh PT Harapan Bangsa Kita, entitas bisnis milik Kaesang Pangarep, dengan kepemilikan 188.240.000 lembar atau setara 7,27% saham.