Rupiah NDF Melemah ke Rp18.014 per Dolar AS 3 Juli 2026
Nilai tukar rupiah di pasar luar negeri bergerak stagnan cenderung tertekan. Kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 0,07% ke posisi Rp18.014/US$ pada pembukaan pasar Non-Deliverable Forward (NDF), seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Jumat (03/07/2026).
Kenaikan indeks dolar AS sebesar 0,12% ke posisi 100,97 memicu tekanan terhadap mayoritas mata uang di Asia. Sehari sebelumnya, indeks yang mengukur kekuatan greenback tersebut sempat turun 0,53% dari level 101,4.
Pelemahan terdalam dialami oleh won Korea Selatan sebesar 0,43%, diikuti yen Jepang sebesar 0,19%, dan yuan offshore sebesar 0,01%. Namun, baht Thailand dan ringgit Malaysia tampil defensif dengan menguat masing-masing 0,26% dan 0,22%.
Indikator pasar tenaga kerja AS mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi di negara tersebut mulai kehilangan momentum. Data nonfarm payrolls sepanjang Juni hanya mencatat penambahan 57.000, merosot tajam dari tren beberapa bulan sebelumnya.
Pemerintah AS juga merevisi turun data dua bulan sebelumnya secara kumulatif sebanyak 74.000 lapangan kerja. Angka pengangguran memang menyusut menjadi 4,2%, tetapi hal itu dipicu oleh penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja ke level terendah dalam lima tahun terakhir.
Situasi ini membuka peluang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar. Pelaku pasar global kini mulai memangkas prediksi terkait potensi kenaikan suku bunga acuan lanjutan pada tahun ini.
Sentimen Domestik Ganjal Penguatan Rupiah
Sentimen pelonggaran The Fed ternyata belum cukup kuat untuk memicu apresiasi mata uang negara berkembang secara merata. Sebagian investor memilih bersikap waspada akibat aksi jual masif pada saham sektor teknologi global, seperti yang menekan won di Korea Selatan.
Kondisi internal di dalam negeri turut menjadi beban tambahan bagi mata uang garuda. Tekanan terhadap rupiah tetap nyata meskipun prospek pengetatan moneter di AS mulai mereda.
Faktor fundamental ekonomi domestik yang belum sepenuhnya kokoh masih membayangi pergerakan pasar. Defisit neraca perdagangan, kontraksi pada sektor manufaktur, serta penurunan cadangan devisa membatasi ruang bagi rupiah untuk menguat.
Melalui kombinasi faktor tersebut, nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak tertahan. Mata uang domestik diperkirakan fluktuatif dalam rentang Rp17.990 hingga Rp18.050/US$ untuk jangka pendek.