Bursa Saham Asia Melemah Akibat Rotasi Sektor Teknologi
Bursa saham Asia bersiap membuka perdagangan di zona merah untuk sesi kedua berturut-turut pada Jumat (3/7/2026) akibat langkah investor melakukan rotasi keluar dari saham sektor teknologi. Penurunan ini dipicu kekhawatiran bahwa reli panjang akibat tren kecerdasan buatan (AI) sudah bergerak terlalu tinggi, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Kontrak berjangka untuk indeks saham Jepang dan Korea Selatan terpantau merosot, sedangkan kontrak untuk bursa Hong Kong bergerak stagnan. Di bursa AS, kontrak berjangka saham juga tidak banyak bergerak setelah indeks Nasdaq 100 merosot 1,6 persen pada perdagangan Kamis, sementara Indeks Semikonduktor Philadelphia anjlok hingga 5,4 persen.
Sentimen negatif mencuat menyusul laporan media The Information bahwa startup AI Anthropic PBC tengah menjajaki pembicaraan awal dengan Samsung Electronics Co untuk memproduksi cip AI khusus. Langkah ini menggarisbawahi perluasan kompetisi di ekosistem AI untuk mendobrak posisi dominan Nvidia Corp, meskipun investor mulai mempertanyakan valuasi saham yang tinggi di tengah pembengkakan biaya investasi.
"Ada kekhawatiran bahwa tingginya harga memori akan mendorong lahirnya solusi AI yang membutuhkan lebih sedikit memori, dan proyek pembangunan pusat data pada akhirnya mungkin tidak semuanya selesai dibangun," urai Louis Navellier, perwakilan Navellier & Associates.
Navellier menambahkan bahwa penentuan harga token pada perangkat lunak AI diprediksi bakal memaksa pengguna beralih ke versi yang berbiaya lebih murah, terutama produk buatan China. Faktor-faktor tersebut dinilai memicu peningkatan sikap kehati-hatian di tengah antusiasme besar terhadap euforia di sektor AI.
Sebelum aksi jual meluas, indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 sempat menguat setelah data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) pada Kamis menunjukkan pasar tenaga kerja AS mulai mendingin dengan nonfarm payrolls yang hanya bertambah 57.000 pada bulan lalu. Tingkat pengangguran AS juga tercatat turun menjadi 4,2 persen karena merosotnya angka partisipasi angkatan kerja secara drastis.
Data ketenagakerjaan tersebut membuat tingkat imbal hasil obligasi AS dan nilai tukar dolar AS kompak melemah, sehingga pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve meskipun tetap memproyeksikan satu kali kenaikan lagi tahun ini.
"Kondisi pasar tenaga kerja yang masih ekspansif namun tidak lagi memanas, memberikan ruang bagi The Fed untuk tetap bersabar sembari mengevaluasi tekanan harga," jelas Andrew Dubinsky, perwakilan UBS Chief Investment Office.
Dubinsky menyatakan bahwa jika tren disinflasi berlanjut sesuai perkiraan, para pembuat kebijakan akan memiliki sedikit alasan untuk keluar dari posisi menahan suku bunga saat ini pada paruh kedua tahun ini.
Pelemahan dolar AS turut mengangkat nilai tukar yen di Asia karena meningkatnya spekulasi intervensi baru dari pemerintah Jepang. Libur nasional di AS pada Jumat diperkirakan membuat volume perdagangan menjadi lebih tipis, sehingga berpotensi memperbesar dampak jika Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing.