Dua Lipa Dirikan Manifesto Library Tempatkan 100 Buku Terlarang di Portugal

Share

Penyanyi Dua Lipa membuat gebrakan baru di dunia literasi dengan mendirikan sebuah perpustakaan unik bernama Manifesto Library. Aksi nyata ini dilakukan sebagai bentuk kecintaannya yang mendalam terhadap buku.

Dilansir dari Detikcom, musisi berusia 30 tahun tersebut membangun Manifesto Library di dalam auditorium budaya Livraria Lello, sebuah toko buku bersejarah di Porto, Portugal.

Perpustakaan yang baru diresmikan ini menyimpan 100 buku hasil kurasi Dua Lipa bersama klub buku Service95. Seluruh karya yang dipajang merupakan buku-buku yang sempat dilarang beredar di berbagai belahan dunia.

Koleksi dalam Manifesto Library mencakup buku yang dilarang terbit, dihapus dari kurikulum sekolah, hingga yang dikeluarkan dari sistem perpustakaan umum. Proyek fisik pertama ini menjadi wadah bagi penulis dan pembaca.

Dua Lipa menjelaskan bahwa tempat ini menjadi ruang suci bagi karya-karya yang sempat hilang. Fasilitas ini didedikasikan untuk para penulis yang berani membongkar kekuasaan dan kendali.

"Bagi para pembaca yang menolak untuk diberi tahu buku apa yang boleh mereka baca, kamu diundang untuk berkunjung dan memutuskan sendiri apa yang pantas berada di rak-rak ini," kutip Dua Lipa dari situs Service95.

"Karena terkadang hal yang paling subversif yang dapat dilakukan adalah membaca buku, kemudian membicarakannya."

Pihak pengelola menyusun 100 buku terlarang tersebut ke dalam empat tema utama. Keempat kategori tersebut meliputi kekuasaan, kendali, suara, dan ingatan.

Tema kekuasaan berfokus pada analisis pihak yang memegang pengaruh serta tantangan terhadap narasi warisan sejarah. Pada bagian ini, terdapat karya seperti The Second Sex oleh Simone de Beauvoir dan Nineteen Eighty-Four milik George Orwell.

Selain itu, tema kekuasaan juga diisi oleh buku Felon karya Reginald Dwayne Betts, Free karya Lea Ypi, One Day karya Omar El Akkad, serta Everyone Will Have Always Been Against This.

Kategori Kendali dan Suara

Kategori kendali memetakan mekanisme pembatasan kebebasan berpikir melalui propaganda dan ideologi institusional. Buku yang dipajang di antaranya The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood dan The Trial karya Franz Kafka.

Rak kendali ini juga memuat The Memory Police karya Yoko Ogawa serta karya Ai Weiwei tentang Sensor. Seniman aktivis tersebut kebetulan sedang menggelar pameran bertajuk A4 di Livraria Lello.

Kategori ketiga adalah Voice yang mengangkat perspektif yang sering diabaikan secara sistematis. Bagian ini menampilkan The Color Purple karya Alice Walker dan The Satanic Verses karya Salman Rushdie.

Terdapat pula buku On Earth We're Briefly Gorgeous karya Ocean Vuong di rak Voice. Karya kompilasi My Pen Is The Wing Of A Bird: New Fiction By Afghan Women ikut melengkapi kategori ini.

Kategori Ingatan

Kategori terakhir dinamakan Memory yang meneliti hubungan sejarah dengan penghapusan fakta secara sengaja. Buku-buku di bagian ini berfungsi menjaga kesaksian pribadi maupun kolektif agar tidak terlupakan.

Jajaran karya pada tema ingatan ini meliputi Pachinko karya Min Jin Lee dan Patriot karya Alexei Navalny. Pengunjung juga dapat menemukan The Unbearable Lightness Of Being karya Milan Kundera serta The Books Of Jacob karya Olga Tokarczuk.

Melalui media sosial personalnya, istri dari Callum Turner ini memang dikenal aktif membagikan rekomendasi bacaan. Setelah resmi diluncurkan pada 30 Juni 2026, Manifesto Library kini bersiap menyambut kunjungan masyarakat umum.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author