IHSG Ditutup Menguat ke 5.744 di Tengah Pelemahan Bursa Asia
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat di zona hijau hingga penutupan perdagangan. Kondisi ini terjadi saat Bursa Asia sedang bervariasi cenderung melemah akibat sentimen wait and see terhadap data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Dikutip dari Bloomberg Technoz, IHSG menutup perdagangan di posisi 5.744 pada Kamis (2/7/2026).
Angka tersebut menunjukkan penguatan sebesar 0,87% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Sepanjang hari, posisi tertinggi IHSG menyentuh 5.806, sedangkan posisi terendah sempat berada di 5.704. Volume perdagangan melibatkan 20,5 miliar saham dengan nilai transaksi Rp11,14 triliun dan frekuensi 1,51 juta kali.
Indeks LQ45 menetap di posisi 565,49 dengan menguat 1,57% secara point-to-point. Saham-saham big caps terpantau ramai ditransaksikan sepanjang hari ini.
Nilai transaksi tertinggi dipimpin oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mencapai Rp989,49 militar. Diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp841,44 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp770,94 miliar, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp713,17 miliar. Sektor perindustrian, transportasi, dan barang baku mencatat kenaikan tertinggi. Masing-masing sektor menguat sebesar 2,97%, 2,21%, dan 2,16%, disusul sektor konsumen non primer sebesar 1,77%.
Sebanyak 395 saham mengalami kenaikan harga, 219 saham melemah, dan 169 saham bergerak stagnan. Saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) menjadi salah satu top gainer yang melonjak 34,88%. Lonjakan juga dialami PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) dan PT Multi medika Internasional Tbk (MMIX) yang masing-masing melesat 25%. Sementara itu, mayoritas bursa Asia lainnya justru menapaki jalur merah.
Indeks KOSPI terpangkas 7,89%, KOSDAQ minus 6,74%, CSI 300 turun 2,96%, Shenzhen Comp berkurang 2,81%, dan NIKKEI 225 melemah 2,47%. Shanghai Composite, TW Weighted, dan Ho Chi Minh Stock juga turun masing-masing 2,03%, 0,58%, dan 0,05%. Namun, beberapa indeks lain masih menguat bersama IHSG.
Straits Times naik 1,08%, PSEI untung 0,93%, Hang Seng terapresiasi 0,76%, SENSEX naik 0,66%, SETI tumbuh 0,34%, KLCI naik 0,3%, dan TOPIX menguat 0,09%. Pasar saham Asia secara umum tersengat oleh sikap kehati-hatian investor. Hal ini terjadi setelah mencermati pernyataan terbaru dari Gubernur Bank Sentral AS (The Fed), Kevin Warsh.
Berbicara di forum tahunan Bank Sentral Eropa (ECB) di Portugal, Kevin Warsh mengatakan ekspektasi inflasi telah melambat selama sebulan baru-baru ini. Ia menegaskan komitmen The Fed untuk memulihkan stabilitas harga.
Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa pembuat kebijakan tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga Federal Funds Rate (FFR). Investor kini fokus menanti rilis data ekonomi AS terbaru. Phintraco Sekuritas memaparkan bahwa pasar menantikan data non-farm payroll AS bulan Juni 2026.
Data tersebut diprediksi menunjukkan penambahan tenaga kerja sebanyak 110 ribu, melambat dari bulan sebelumnya sebesar 172 ribu. "Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai melambat seiring tingginya suku bunga yang masih membatasi aktivitas ekonomi," papar Phintraco dalam catatan terbarunya siang hari ini, Kamis.
Phillip Sekuritas Indonesia juga mengutarakan hal serupa mengenai prediksi penambahan 115.000 lapangan kerja pada bulan Juni dengan tingkat pengangguran stabil di angka 4,3% selama empat bulan beruntun.
"Jumlah penambahan lapangan kerja seperti ini dinilai jauh di atas yang dibutuhkan (50.000) untuk mencegah kenaikan tingkat pengangguran seiring dengan penurunan imigrasi dan penuaan angkatan kerja," terang Phillip Sekuritas. Dari sektor manufaktur, data ISM Manufacturing Index AS turun ke level 53,3 pada bulan Juni dari sebelumnya 54,0. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar yang mematok target di level 54,0.
Perhitungan final data S&P Global Manufacturing PMI AS juga direvisi turun tajam ke level 53,9 pada bulan Juni. Angka ini menandai laju terlemah dalam tiga bulan terakhir.