Dua Lipa Mendirikan Manifesto Library untuk Hidupkan Buku Terlarang
Penyanyi ternama Dua Lipa menunjukkan kepedulian besar terhadap dunia literasi dengan menginisiasi sebuah perpustakaan unik bernama Manifesto Library di Portugal. Ruang baca fisik ini secara khusus mengumpulkan berbagai karya literatur yang sempat dilarang atau disensor di sejumlah negara, seperti dilansir dari HaiBunda. Perpustakaan tersebut resmi beroperasi sejak 27 Juni 2026 sebagai rangkaian dari festival sastra bertajuk BABELL, City of Books.
Manifesto Library mengambil tempat di Livraria Lello yang berlokasi di Porto dengan menyajikan buku-buku seputar tema suara, ingatan, dan kekuasaan.
Kehadiran proyek ini menjadi langkah lanjutan Dua Lipa dalam dunia literasi setelah dirinya meluncurkan Service95 sekitar tiga tahun lalu. Klub buku digital tersebut sebelumnya aktif membagikan rekomendasi bacaan yang mencakup beragam perspektif global.
Melalui Manifesto Library, pelantun lagu Levitating tersebut kini menyediakan fasilitas membaca konvensional yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Pendirian perpustakaan ini didasari oleh sebuah pandangan bahwa sensor terhadap karya tulis tidak hanya menghilangkan sebuah cerita, tetapi juga membatasi ruang berpikir manusia.
"Manifesto Library lahir dari keyakinan bahwa lebih dari sekadar cerita yang hilang ketika sebuah buku disensor. Larangan ini, yang sering kali tidak diucapkan, membatasi hak untuk mempertanyakan, membayangkan, dan memahami dunia," demikian pengumuman resmi perpustakaan tersebut. Kolaborasi antara Livraria Lello dan Service95 Book Club menghasilkan ruang baca yang memuat 100 buku kontemporer pilihan. Seluruh koleksi di dalamnya dianggap memiliki narasi yang berani menantang otoritas sekaligus memicu pemikiran kritis pembaca.
"Dibuat oleh Livraria Lello dan Service95 Book Club, Manifesto Library menyatukan 100 buku kontemporer yang telah menantang otoritas dan terus memprovokasi refleksi tentang kebebasan, identitas, ingatan, dan pemikiran kritis," lanjut pengumuman itu.
Dua Lipa sempat membagikan kilas balik saat pertama kali merancang Service95 sebagai wadah interaksi tanpa batas bagi para penulis dan pembaca dari berbagai kalangan. Penyanyi yang kini berusia 31 tahun tersebut menegaskan opininya mengenai arti penting dari aktivitas membaca. "Membaca dunia mendekatkan kita, tetapi sayangnya, tidak semua orang menyukai hal itu," tulis Dua Lipa.
Artis pemenang Grammy Award ini juga memberikan gambaran mengenai topik-topik sensitif yang diangkat dalam koleksi bukunya.
"Di sini Anda akan menemukan seratus buku yang mengajukan pertanyaan, atau telah dipertanyakan. Beberapa telah dilarang by distrik sekolah karena tema ras atau seksualitas," ujar Dua Lipa. Tempat ini sengaja dipersiapkan untuk memuliakan kembali karya-karya tulisan yang sempat dibatasi atau dihilangkan dari publik.
Dua Lipa berharap ruang ini bisa menjadi pengingat berharga bahwa setiap jalinan cerita memiliki hak dan nilai untuk dibaca oleh siapa saja. Masyarakat kini diundang secara terbuka untuk melihat langsung dan memberikan penilaian personal terhadap seluruh karya yang dipajang di sana.
"Anda diundang untuk berkunjung dan memutuskan sendiri apa yang pantas berada di rak-rak ini," kata Dua Lipa. Langkah membaca dan mendiskusikan buku-buku terlarang dipandang sebagai sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian tersendiri. "Karena terkadang hal paling berani yang dapat Anda lakukan adalah membaca buku dan kemudian membicarakannya," ujar Dua Lipa.