Emisi Gas Rumah Kaca Amazon dan Google Melonjak Akibat AI

Share

Emisi gas rumah kaca dari dua raksasa teknologi, Amazon.com Inc dan Google milik Alphabet Inc, mengalami lonjakan signifikan sepanjang tahun 2025 akibat besarnya kebutuhan energi fosil untuk mengoperasikan kecerdasan buatan (AI). Lonjakan emisi tersebut memicu kekhawatiran karena mempersulit pencapaian target iklim yang telah ditetapkan oleh kedua perusahaan raksasa dunia tersebut. Dilansir dari Bloombergtechnoz pada Kamis, 2 Juli 2026, laporan keberlanjutan Amazon yang dirilis hari Rabu menunjukkan kenaikan emisi sebesar 16 persen dibanding tahun 2024, dengan total mencapai 81 juta metrik ton setara karbon dioksida.

Pihak Amazon menjelaskan bahwa pembangunan pusat data dan bahan bakar logistik pengiriman barang menjadi faktor utama pendorong peningkatan jejak karbon tersebut.

Sementara itu, Google mencatatkan kenaikan emisi berbasis ambisi sebesar 18 persen secara keseluruhan pada tahun 2025 melalui laporan keberlanjutan yang dipublikasikan pada hari Selasa. Emisi Scope 1 dari operasional internal Google, di luar listrik yang dibeli, naik 20 persen akibat perluasan portofolio pusat data, di mana konsumsi listrik mereka secara total melonjak hingga 37 persen.

Kondisi serupa juga melanda Microsoft Corp dan Meta Platforms Inc yang mencatatkan lonjakan emisi masing-masing sebesar 23 persen dan 64 persen dalam laporan tahun lalu, di tengah komitmen net zero mereka. Tingginya kebutuhan daya pusat data ini telah memicu investasi baru pada infrastruktur bahan bakar fosil di Amerika Serikat, termasuk penggunaan turbin gas alam oleh SpaceX di Tennessee dan Mississippi.

Kritik tajam datang dari kalangan ilmuwan yang menilai pertumbuhan emisi di sektor teknologi ini bertolak belakang dengan upaya penanganan krisis iklim global. "Pada dasarnya kita sedang dalam krisis iklim dan seharusnya kita tidak mengalami pertumbuhan emisi sama sekali, tetapi pusat data justru bergerak ke arah yang berlapangan," kata Sasha Luccioni, salah satu pendiri dan kepala petugas ilmiah Sustainable AI Group. Meskipun menghadapi tantangan besar dari ekspansi AI, baik Amazon maupun Google menyatakan bahwa mereka akan tetap memegang teguh komitmen target keberlanjutan lingkungan masing-masing.

"mengingat pengembangan infrastruktur AI kami saat ini berlangsung lebih cepat daripada proses dekarbonisasi jaringan listrik." tulis Google dalam laporan resminya untuk menjelaskan jalur emisi yang tidak linier.

Pihak manajemen Amazon juga menegaskan perlunya fleksibilitas dalam menghadapi dinamika transisi energi di tengah adopsi teknologi yang masif ini. "Meski kecepatan dan skala adopsi AI memang unik—dan perubahan ini terjadi lebih cepat dan lebih luas daripada hal lain apa pun yang pernah kami alami sepanjang hidup kami—kebutuhan untuk tetap teguh pada visi kami dan fleksibel dalam hal detail bukanlah hal baru," kata Kara Hurst, Kepala Keberlanjutan Amazon. Sebelumnya, sejumlah investor aktivis sempat mengajukan proposal yang meminta kejelasan terkait keseimbangan kebutuhan listrik AI dengan komitmen iklim, namun usulan itu gagal mendapat dukungan suara mayoritas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author