Bitcoin Kembali Naik ke Level 60 Ribu Dolar AS
Aset kripto Bitcoin berhasil memperbaiki posisinya dan kembali merangkak naik ke kisaran US$60.000 setelah sempat tertahan pada level terendahnya dalam 21 bulan terakhir.
Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, pemulihan harga ini dipicu oleh munculnya sinyal pelemahan ekonomi Amerika Serikat (AS) berdasarkan data paling baru.
Selain itu, pergerakan ini juga dipengaruhi oleh sikap mengambang yang ditunjukkan oleh Gubernur baru bank sentral AS, Kevin Warsh.
Hingga Kamis (2/7/2026) sore pukul 15.50 WIB, mata uang digital terpopuler di dunia ini bergerak di kisaran US$60.488 setelah sempat mencapai titik tertinggi harian pada level US$60.986.
Sebelum berangsur membaik, perdagangan intraday aset ini sempat merosot hingga menyentuh US$57.779.
Penurunan tajam pada awal pekan terjadi karena para pelaku pasar fokus pada prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Investor cenderung menjauhi aset berisiko seiring meluasnya pernyataan hawkish dari para pengambil kebijakan.
Berdasarkan catatan SoSoValue, arus modal keluar dari instrumen ETF Bitcoin Spot menyentuh angka US$4,5 miliar sepanjang bulan Juni.
"menghadapi rintangan yang kian membesar akibat pergeseran ekspektasi suku bunga Fed dan penguatan dolar AS," kata Tony Sycamore, analis IG Australia, seperti dilaporkan Bloomberg News.
Tekanan hawkish terpantau melemah setelah data ekonomi terbaru menunjukkan sektor swasta AS hanya menambah 98.000 lapangan kerja pada Juni, turun dari 122.000 pada Mei.
Penurunan juga terjadi pada Indeks manufaktur ISM dari 54 menjadi 53,3, disertai kemerosotan indikator harga yang dibayarkan dari 82,1 ke 73.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan inflasi di Amerika Serikat kemungkinan mulai mereda.
Data dari Glassnode menunjukkan bahwa saat ini sedang terjadi perubahan fundamental di dalam pasar kripto.
Para investor jangka panjang dilaporkan telah kembali masuk ke dalam fase akumulasi.
Selain itu, buku pesanan spot pada platform Binance serta Coinbase sekarang mulai didominasi oleh penawaran beli.
Meskipun demikian, volume Bitcoin yang berada dalam posisi merugi saat ini tercatat masih lebih banyak dibandingkan dengan posisi untung.
Sebuah kondisi dimana ini menjadi “tahap awal dari proses pencapaian titik terendah,” terang analis Chris Beamish.
Sebelumnya, kepala strategi pasar di Miller Tabak + Co., Matt Maley, memberikan pandangan bahwa pergerakan teknis Bitcoin masih menunjukkan tren negatif.
Hal tersebut terjadi setelah harga aset sempat mendekati kisaran US$80.000 pada kuartal pertama namun gagal menembus level yang lebih tinggi.
"Jadi, jika harga membentuk level terendah baru, hal itu akan sangat negatif dari sudut pandang teknis," terang Maley.
"Apabila hal ini digabungkan dengan pengumuman bahwa Strategy Inc. menjual lebih banyak Bitcoin, kepercayaan terhadap kelas aset ini semakin memudar."