Rusia Meluncurkan Serangan Rudal dan Drone Masif ke Kyiv

Share

Militer Rusia meluncurkan salah satu serangan rudal dan drone paling intensif ke kota Kyiv sepanjang tahun ini pada Kamis, 2 Juli 2026, yang menewaskan sedikitnya 13 orang serta melukai puluhan warga lainnya, dilansir dari Bloombergtechnoz. Komando Pertahanan Udara Ukraina melaporkan bahwa pasukan Rusia mengombinasikan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone bermesin jet dalam gempuran semalam. Serangan udara masif tersebut tidak hanya menyasar ibu kota Kyiv, melainkan juga menghantam wilayah Kharkiv dan Sumy.

Sistem pertahanan udara Ukraina berhasil melumpuhkan 48 dari 74 rudal serta 476 dari 496 drone yang dilepaskan oleh Rusia. Berdasarkan data otoritas regional, area terdampak serangan yang awalnya terbatas kini meluas hingga mencakup wilayah tempat tinggal bagi lebih dari 70 persen total populasi Rusia yang telah membunyikan alarm peringatan.

Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengonfirmasi lewat kanal Telegram miliknya bahwa gempuran tersebut merusak area permukiman warga di tujuh distrik kota. Sebanyak 86 orang dilaporkan mengalami luka-luka, dengan 70 korban di antaranya harus segera dilarikan ke rumah sakit termasuk petugas medis setempat.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha langsung mengulang desakannya kepada para negara sekutu untuk menambah bantuan sistem pertahanan udara setelah insiden tersebut. Melalui kunjungan dinasnya di Jepang, Sybiha memproyeksikan jumlah korban tewas masih berpotensi terus bertambah. "Rusia sengaja menargetkan bangunan tempat tinggal dan infrastruktur sipil," ujar Sybiha dalam sebuah unggahan di platform X.

Sybiha menilai serangan ini sebagai pelanggaran hukum internasional yang berat. Pihak Ukraina kini sedang menginformasikan situasi tersebut kepada organisasi internasional demi menuntut respons yang tegas. "Serangan semacam ini merupakan kejahatan perang yang serius dan kami sedang menginformasikan hal ini kepada semua mitra serta organisasi internasional, sembari menyerukan pertanggungjawaban dan respons yang tegas." ujar Sybiha.

Di pihak lain, Kementerian Pertahanan Rusia memberikan konfirmasi resmi mengenai operasi militer terbarunya melalui Telegram pada hari Kamis. Pihak Moskow mengklaim bahwa gempuran masif tersebut ditujukan ke kompleks industri pertahanan serta fasilitas energi kota sebagai aksi balasan atas serangan Ukraina sebelumnya. Sebelumnya, Moskow juga melaporkan indikasi penggunaan rudal balistik jarak jauh oleh militer Ukraina untuk pertama kalinya.

Klaim tersebut muncul setelah pihak Rusia mengaku menembak jatuh rudal taktis-operasional jarak jauh, tujuh bom berpemandu, dan 602 drone dalam sehari terakhir. Merespons dinamika konflik ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan tekanan terhadap pemimpin Rusia Vladimir Putin. Langkah ini diambil agar Rusia bersedia masuk ke meja perundingan damai setelah konflik bersenjata berjalan lebih dari empat tahun.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author