Bambang Soesatyo Apresiasi Gelar Doktor Ilmu Filsafat Yusril Ihza Mahendra

Share

Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo mengapresiasi Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra yang meraih gelar Doktor Ilmu Filsafat dari Universitas Indonesia pada Kamis (2/7/2026).

Pencapaian akademik tersebut dinilai menghadirkan kembali ruang diskusi ilmiah yang mendalam mengenai hubungan Islam, demokrasi, konstitusi, dan kebangsaan, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Yusril dinyatakan lulus dalam Sidang Terbuka Doktor Ilmu Filsafat setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul "Islam, Negara dan Demokrasi Dalam Pemikiran Mohammad Natsir: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial".

Apresiasi setinggi-tingginya diberikan atas keberhasilan tersebut karena menunjukkan seorang pejabat negara masih mampu memberikan kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan.

"Saya menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra atas keberhasilannya meraih gelar Doktor Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia. Prestasi ini menunjukkan bahwa seorang pejabat negara tetap dapat memberikan kontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan," kata Bambang Soesatyo dalam keterangan tertulis.

Relevansi disertasi yang mengangkat pemikiran Mohammad Natsir tersebut dianggap menawarkan perspektif bahwa Islam, demokrasi, dan negara kebangsaan dapat berjalan harmonis dalam bingkai Pancasila serta UUD 1945.

"Disertasi yang mengangkat pemikiran Mohammad Natsir menjadi sangat relevan karena menawarkan perspektif akademik bahwa Islam, demokrasi, dan negara kebangsaan Indonesia dapat berjalan harmonis dalam bingkai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945," imbuh Bambang Soesatyo.

Capaian ini dipandang memiliki makna besar bagi kehidupan berbangsa, terutama di tengah tantangan polarisasi politik dan derasnya arus informasi digital saat ini. Kajian filosofis tersebut dinilai menjadi pijakan moral dan intelektual guna menjaga persatuan Indonesia karena rekam jejak Mohammad Natsir membuktikan nilai Islam dan demokrasi bisa seiring memperkokoh NKRI, termasuk melalui kontribusi Mosi Integral Natsir pada 1950.

"Pemikiran Mohammad Natsir mengajarkan bahwa agama dan demokrasi tidak perlu dipertentangkan. Nilai-nilai keislaman justru dapat memperkuat etika politik, memperkokoh moralitas penyelenggara negara, sekaligus memperdalam kualitas demokrasi. Semangat itulah yang sangat dibutuhkan Indonesia ketika demokrasi menghadapi tantangan berupa polarisasi, penyebaran disinformasi, politik identitas, hingga menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi," ujar Bambang Soesatyo.

Pesan kuat dari disertasi tersebut juga dinilai terletak pada keteladanan pribadi Mohammad Natsir dalam menjaga etika politik dan mengedepankan sikap saling menghormati antartokoh nasional demi kepentingan bangsa.

"Politik Indonesia memerlukan semakin banyak teladan seperti Mohammad Natsir. Kompetisi politik boleh berlangsung keras, perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi, namun persaudaraan kebangsaan harus tetap terjaga. Demokrasi yang sehat lahir dari karakter pemimpin yang mampu mengedepankan integritas, menghormati lawan politik, serta menjadikan kepentingan rakyat sebagai tujuan utama," pungkas Bambang Soesatyo.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author