Suhu Dingin Malang Turun hingga 16 Derajat Celcius Akibat Fenomena Bediding
Wilayah Malang dan beberapa daerah di Jawa Timur mengalami penurunan suhu udara yang drastis di tengah puncak musim kemarau menjelang Agustus 2026. Kondisi ini bertolak belakang dengan wilayah Indonesia barat yang secara umum terasa panas, di mana masyarakat Jakarta merasakan suhu berkisar 26-34 derajat Celcius. Suhu di Malang tercatat merosot hingga menyentuh angka 16 derajat Celcius akibat fenomena tahunan yang berulang, seperti dilansir dari Detikcom.
Penurunan suhu udara secara drastis saat musim kemarau ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan fenomena bediding.
Secara klimatologi, fenomena bediding berkaitan erat dengan dinamika atmosfer dan pergerakan angin muson. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Benua Asia.
Pergerakan angin ini terjadi akibat perbedaan pemanasan antara belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Pada periode April hingga Oktober, posisi matahari berada di belahan bumi utara yang menyebabkan Benua Asia mengalami musim panas.
Sebaliknya, Benua Australia yang berada di belahan bumi selatan sedang mengalami musim dingin pada periode tersebut. Angin Monsun Australia kemudian berembus melewati wilayah Indonesia dan perairan Samudra Hindia menuju Benua Asia. Suhu permukaan laut Samudra Hindia yang relatif rendah membuat angin yang berembus ikut membawa udara dingin ke daratan Indonesia.
Penurunan suhu ini diperkuat oleh minimnya tutupan awan di langit saat Indonesia memasuki musim kemarau.
Prakirawan BMKG, Linda Fitrotul, mengonfirmasi bahwa berkurangnya tutupan awan mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi. Pada siang hari, permukaan bumi menyerap radiasi matahari secara maksimal karena tidak terhalang oleh awan. Namun pada malam hari, radiasi tersebut langsung dilepaskan kembali ke atmosfer dalam bentuk radiasi balik gelombang panjang.
Proses pelepasan panas yang cepat dan masif ini menyebabkan suhu udara di permukaan bumi turun secara drastis.
Kondisi geografis Malang yang berada di dataran tinggi memperparah efek dingin dari fenomena bediding tersebut. Malang terletak pada ketinggian rata-rata 400 hingga 600 meter di atas permukaan laut (mdpl).
"Baben Kota Batu mencapai lebih dari 700 sampai 1.700 mdpl. Semakin tinggi elevasi suatu wilayah, maka suhunya juga semakin rendah," tutur Linda Fitrotul.
Daftar Suhu Minimum di Jawa Timur
Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyatakan fenomena bediding umumnya berlangsung sejak bulan Juni hingga September setiap tahun.
Catatan historis Staklim Jatim menunjukkan suhu terendah dari fenomena ini pernah mencapai 11,4 derajat Celsius pada Agustus 1994.
Berikut adalah data sebaran suhu minimum di beberapa wilayah Jawa Timur selama fenomena ini berlangsung:
| Wilayah / Kawasan | Suhu Minimum (Celcius) |
|---|---|
| Kawasan Bromo | 8,2 derajat Celsius |
| Kabupaten Malang | 12,4 derajat Celsius |
| Pasuruan | 12,6 derajat Celsius |
| Trenggalek | 14,7 derajat Celsius |
| Perkotaan Malang | 15,0 derajat Celsius |
Merespons suhu dingin ekstrem ini, Stasiun Klimatologi Jawa Timur mengeluarkan sejumlah rekomendasi praktis untuk masyarakat setempat. Warga diimbau menggunakan pakaian hangat, terutama pada pagi dan malam hari saat suhu mencapai titik terendah. Masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi serta memastikan waktu istirahat yang cukup.
Bagi sektor pertanian, tanaman yang rentan terhadap embun es sebaiknya dilindungi menggunakan naungan atau plastik mulsa.
Para peternak juga disarankan untuk memastikan kondisi kandang ternak mereka tertutup dengan baik agar tetap hangat. "Bediding adalah kondisi alami, tetap waspada dan siapkan diri agar aktivitas tetap nyaman dan aman," ungkap Staklim Jatim.