IHSG Menguat 1,7 Persen ke Level 5.792 pada Sesi I
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Sesi I di zona hijau dengan penguatan 1,7 persen di posisi 5.792 pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Dilansir dari Bloomberg Technoz, total transaksi sepanjang perdagangan pagi hingga siang ini mencapai Rp6,49 triliun dari 13,08 miliar saham yang diperjualbelikan.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 13:00 WIB justru melemah 0,26 persen di level Rp17.995/US$. Tekanan pada mata uang domestik ini dipicu oleh risiko penyusutan cadangan devisa akibat perlambatan kinerja net-ekspor.
Kondisi pasar saham Indonesia juga dibayangi oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) di pasar global yang didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, sejumlah sektor mampu menjadi motor penggerak indeks komposit pada paruh pertama hari ini.
Sektor barang baku memimpin penguatan dengan melonjak hingga 3,64 persen, disusul sektor perindustrian sebesar 3,17 persen, dan sektor transportasi yang naik 3,14 persen. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi penopang utama di sektor barang baku dengan menguat 12,6 persen, diikuti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang naik 6,12 persen.
Pada sektor perindustrian, saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) melejit 17,7 persen. Selain itu, saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melesat 2,52 persen dan PT United Tractors Tbk (UNTR) menguat 2,16 persen.
Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan turut parkir di zona hijau dengan kenaikan 2,48 persen ke posisi 570,55. Di dalam kelompok ini, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) meningkat 6,85 persen, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melesat 6,01 persen, dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 5,48 persen.
Tren bullish juga melanda saham LQ45 lainnya, seperti PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang melejit 4,38 persen. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melonjak 4,05 persen dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 4,02 persen.
Pengaruh Sentimen Global dan Domestik
Laju IHSG dan saham-saham berkapitalisasi besar ini mendapat dorongan dari perkembangan pasar global yang akomodatif sehingga memicu aksi ambil risiko (risk-on) investor, meski volume transaksi masih terbatas. Panin Sekuritas menyebutkan bahwa penurunan tajam harga minyak global menjadi penopang utama, menyusul proses negosiasi yang sedang berjalan antara Amerika Serikat dan Iran.
Dari dalam negeri, sentimen pasar ditopang oleh keberlanjutan dukungan kebijakan pemerintah. Beberapa di antaranya meliputi pemotongan harga LNG industri, paket stimulus Semester II-2026, serta reformasi pasar modal yang masih bergulir.
“Kami menilai arah penguatan berkelanjutan IHSG belum dapat ditopang oleh sentimen domestik yang meaningful,” terang Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya.