Penerapan Biodiesel B50 Potensial Naikkan Biaya Tambang Tambah Boros
Implementasi mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 diprediksi meningkatkan biaya operasional penambangan mineral dan batu bara sekitar 3 persen hingga 5 persen akibat kenaikan biaya perawatan mesin serta penurunan efisiensi pembakaran, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
Ketua Bidang Hubungan Industri Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Ardhi Ishak Koesen menilai peningkatan ongkos operasi dipicu durasi penggantian saringan filter yang lebih cepat dan konsumsi bahan bakar yang lebih besar akibat tingginya campuran fatty acid methyl ester (FAME).
"Kenaikannya diperkirakan sekitar 3%—5%, belum bisa dihitung US%/ton karena harga B50 belum ada. Sampai saat ini kami belum tahu berapa harga biodiesel B50 untuk sektor industri. Jika harganya lebih mahal dari biodiesel B40, tentu akan memberatkan sektor industri," kata Ardhi ketika dihubungi, Kamis (2/7/2026).
Kepala Dekarbonisasi Industri dan Transportasi Indef GTI Andry Satrio Nugroho menambahkan bahwa sifat biodiesel yang mudah menyerap air memicu endapan serta korosi pada mesin alat berat.
"Beban pemeliharaan juga bertambah, terutama pada filter dan pengendalian kadar air di tangki penyimpanan," terang Andry.
Direktur Eksekutif Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo) Bambang Tjahjono mengungkapkan tingginya campuran FAME juga berpotensi membuat konsumsi bahan bakar lebih boros sekitar 7 persen hingga 10 persen dibandingkan penggunaan B40.
"Cost dari fuel yang tadinya sekitar 35% mungkin akan jadi 40%, [bahkan] karena harga BBM [industri] meroket di atas Rp20.000, mungkin cost BBM diatas 50%," kata Bambang ketika dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Ketua Komite Pertambangan Minerba Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hendra Sinadia menjelaskan beban tambahan ini kian memberatkan karena komponen bahan bakar menyumbang 25 persen hingga 35 persen dari total biaya operasional perusahaan tambang.
"B40 sudah memberatkan, jadi kalau ditambah ke B50 tentu lebih berat lagi beban biayanya. Apalagi, harga bahan bakar naik dan biaya bahan bakar di perusahaan tambang itu besar, bisa 25%—35% dari total biaya operasional," kata Hendra ketika dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Di sisi lain, kesiapan infrastruktur penyaluran bahan bakar campuran nabati 50 persen ini telah dipastikan oleh pihak penyedia dan regulator untuk menjamin ketersediaan pasokan.
"Seluruh terminal BBM Pertamina Patra Niaga yang berjumlah 126 unit telah siap mendistribusikan B50 mulai 1 Juli 2026," tutur Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).
Kementerian ESDM menegaskan stok B40 tetap dipasarkan selama masa transisi tiga bulan, sementara peresmian program B50 oleh Presiden Prabowo Subianto akan dilakukan menyesuaikan ketersediaan jadwal kenegaraan.
"B50 itu peresmiannya emang rencananya pada awal Juli, tetapi kayaknya enggak tanggal 1 nanti menunggu jadwal Presiden, karena kan diresmikan langsung oleh Presiden tentunya. Rencananya akan di-launching di salah satu SPBU, untuk langsung diimplementasikan nanti serentakkan di seluruh SPBU ada beberapa yang akan diresmikan," kata Anggia kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (30/6/2026).