Mengenal Trauma Bonding dan Dampak Buruknya bagi Hubungan Asmara

Share

Hubungan asmara yang buruk terkadang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari pasangan. Kondisi psikologis yang rumit ini dikenal dengan istilah trauma bonding. Dilansir dari HaiBunda, trauma bonding merupakan keterikatan emosional yang muncul antara korban dan pelaku dalam relasi yang penuh kekerasan atau penyalahgunaan kekuasaan.

Ikatan ini terbangun akibat siklus perlakuan buruk yang diselingi oleh momen kasih sayang, perhatian, atau permintaan maaf. Pelaku menggunakan manipulasi seperti gaslighting, ancaman, dan sabotase demi mempertahankan kontrol. Ketika sesekali menunjukkan sisi baik, korban kembali menaruh harapan bahwa hubungan mereka akan membaik.

Salah satu pemicu utama fenomena ini adalah intermittent reinforcement atau penguatan yang tidak konsisten. Kekerasan dalam hubungan tidak terjadi terus-menerus.

Di sela-sela intimidasi, pelaku kerap memberikan hadiah atau bersikap romantis. Otak korban kemudian merekam momen positif tersebut sebagai sebuah hadiah psikologis. Faktor biologis tubuh juga turut memperkuat ikatan ini. Saat korban menerima sentuhan atau kasih sayang setelah mengalami tekanan, tubuh melepaskan hormon dopamin dan oksitosin yang menciptakan rasa nyaman.

Tanda-Tanda Mengalami Trauma Bonding

Terdapat sejumlah indikator ketika seseorang terjebak dalam ikatan trauma bersama pasangan. Korban biasanya merasa tidak aman untuk mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya.

Hubungan tersebut didominasi oleh rasa bersalah, malu, serta ketakutan. Korban juga merasa harus selalu berhati-hati dalam bertindak agar tidak memicu kemarahan pasangan.

Siklus love bombing yang berlanjut pada penghinaan sering kali mulai dianggap sebagai hal normal karena terjadi berulang kali. Korban pun sulit membayangkan hidup mandiri dan cenderung menjauh dari keluarga maupun teman.

Tujuh Tahapan Siklus

Para ahli membagi trauma bonding ke dalam tujuh fase yang berputar terus-menerus. Siklus ini berawal dari love bombing atau curahan kasih sayang berlebih, diikuti pembangunan kepercayaan dan ketergantungan.

Tahap selanjutnya adalah kritik yang merendahkan harga diri korban, disusul manipulasi dan gaslighting. Pada akhirnya, korban akan menyerah, mengalami tekanan emosional mendalam, hingga siklus tersebut kembali berulang ke awal.

Faktor Risiko dan Hubungannya dengan Stockholm Syndrome

Trauma bonding bisa menimpa siapa saja, namun risikonya lebih tinggi pada individu yang tumbuh di lingkungan masa kecil yang tidak aman secara emosional. Pola hubungan penuh konflik di masa lalu cenderung dianggap normal saat beranjak dewasa. Fenomena ini tidak terbatas pada hubungan romantis, melainkan bisa terjadi antara anak dan pengasuh yang abusif, hingga korban penculikan dengan pelaku. Salah satu bentuk dari kondisi ini adalah stockholm syndrome.

Istilah stockholm syndrome merujuk pada peristiwa perampokan bank di Swedia pada 1973, di mana para sandera justru membela pelaku. Trauma bonding memiliki cakupan lebih luas karena melibatkan segala jenis penyalahgunaan kekuasaan. Keputusan untuk bertahan sering kali dipengaruhi oleh hambatan nyata. Korban kerap menghadapi ketergantungan ekonomi, ancaman keselamatan, hingga respons freeze dari tubuh sebagai mekanisme bertahan hidup.

Langkah Pemulihan dan Penyembuhan

Proses menyembuhkan diri dari ikatan traumatis memerlukan waktu serta dukungan yang tepat. Langkah pertama yang harus diambil adalah menyadari bahwa hubungan tersebut bersifat abusif.

Korban disarankan menulis jurnal untuk memetakan pola kekerasan secara objektif. Berbagi cerita dengan keluarga atau sahabat yang tepercaya juga dapat membantu mengurai beban mental. Penyintas perlu berhenti menyalahkan diri sendiri karena kekerasan sepenuhnya tanggung jawab pelaku.

Batasi atau putus kontak dengan pelaku, serta susun rencana keselamatan jika ada risiko kekerasan fisik. Bantuan profesional dari psikolog atau terapis yang berpengalaman sangat dianjurkan. Selain itu, bergabung dengan kelompok pendampingan penyintas dapat membantu memulihkan rasa percaya diri melalui pola hidup yang lebih sehat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author