Indef Sebut Program B50 Berpotensi Lonjakkan Impor Metanol
Penerapan mandatori pencampuran biodiesel sebesar 50 persen atau program B50 dinilai berpotensi mendorong peningkatan impor metanol hingga 2,5 juta ton per tahun akibat keterbatasan kapasitas produksi di dalam negeri, dilansir dari Bloomberg Technoz pada Kamis (2/7/2026).
Head Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menyebutkan bahwa saat ini produksi metanol domestik hanya mencapai kisaran 400.000 ton secara anual, sedangkan kebutuhan untuk B50 melonjak hingga 2,9 juta ton per tahun.
"Impor metanol berpotensi naik 2,5 juta ton karena B50,” ungkap Andry saat dihubungi Kamis (2/7/2026).
Andry menambahkan bahwa metanol merupakan komponen penting dalam proses transesterifikasi pembuatan fatty acid methyl ester (FAME) sebagai bahan baku biodiesel sehingga ketergantungan impor justru bergeser dari solar ke metanol.
“Transisi ke fatty acid methyl ester [FAME] membutuhkan metanol dan Indonesia masih bergantung pada impor. Upaya memangkas impor solar justru menambah impor metanol di sisi lain,” tambahnya.
Kebijakan hilirisasi ini sebelumnya digandeng oleh optimisme Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan penghentian impor solar secara total melalui pemanfaatan kelapa sawit domestik.
“Juli ini, beberapa hari lagi, kita akan launching B50. B50 [adalah] solar [yang] akan kita olah dari kelapa sawit 50%. Dengan demikian, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri saudara-saudara,” ungkap Prabowo dalam pidatonya pada acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga menyatakan keyakinannya bahwa peluncuran B50 akan memperbaiki neraca perdagangan energi nasional.
“Jadi insyaallah kami sangat optimistis untuk implementasi launching daripada B50 itu akan dilakukan nanti pada 1 Juli 2026. Maka itu, kita akan mengurangi atau bahkan kita tidak lagi melakukan impor solar khususnya C48 [CN 48] ya,” kata Bahlil kepada awak media di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (18/6/2026).
Sebagai langkah jangka panjang guna mengatasi defisit tersebut, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya sempat memaparkan data ketersediaan metanol nasional yang relatif terbatas.
Menurut catatan kementerian, Indonesia membutuhkan 2,3 juta ton metanol namun produksi dalam negeri saat itu hanya berada di level 300.000 ton per tahun, sehingga sebanyak 2 juta ton sisanya dipenuhi lewat jalur impor.
Pemerintah menargetkan pembangunan pabrik metanol di Bojonegoro, Jawa Timur, senilai US$1,2 miliar yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk menghasilkan kapasitas 800.000 ton metanol per tahun dan dijadwalkan rampung pada akhir tahun 2027.