Rupiah Melemah ke Rp18.018 per Dolar AS pada Kamis Pagi
Nilai tukar rupiah di pasar luar negeri melorot hingga menyentuh level Rp18.018 per dolar AS pada perdagangan Kamis (2/6/2026) pukul 07:30 WIB akibat penurunan cadangan devisa nasional. Dilansir dari Bloomberg Technoz, depresiasi ini memperpanjang tren negatif mata uang Garuda yang terus tertekan sejak awal pekan. Kondisi pasar uang di kawasan Asia bergerak bervariasi dengan pelemahan terdalam dialami oleh won Korea Selatan sebesar 0,28 persen.
Sementara itu, baht Thailand tercatat menguat 0,1 persen, diikuti oleh penguatan terbatas pada ringgit Malaysia, yuan offshore, dan dolar Hong Kong. Kinerja mata uang domestik sepanjang kuartal kedua mencatatkan penurunan paling tajam di kawasan sebesar 4,96 persen. Jika dihitung sejak awal tahun, nilai tukar rupiah sudah merosot hingga 7,01 persen dan posisinya hanya berada satu tingkat lebih baik daripada won Korea Selatan.
Ketidakpastian geopolitik global serta sejumlah kebijakan dalam negeri memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku pasar. Selain itu, sentimen negatif juga datang dari peringatan lembaga pemeringkat utang Fitch Ratings mengenai potensi penurunan peringkat utang Indonesia jika cadangan devisa terus tergerus setelah sebelumnya mengubah prospek peringkat dari stabil menjadi negatif.
Fitch Ratings memproyeksikan cadangan devisa Indonesia pada tahun 2026 hanya cukup untuk membiayai 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal pemerintah. Angka tersebut berada di bawah median negara-negara berperingkat BBB yang rata-rata memiliki ketahanan selama 5 bulan, sedangkan posisi Indonesia saat ini masih di level BBB dengan kemampuan 5,5 bulan. Bank Indonesia terus melakukan langkah intervensi di pasar valuta asing guna menahan volatilitas nilai tukar yang semakin tinggi. Penurunan cadangan devisa menjadi US$144,9 miliar pada Mei dipicu oleh aksi penjualan dolar AS serta pembayaran utang luar negeri jatuh tempo yang tahun ini mencapai Rp833 triliun.
Akibatnya, rasio kecukupan cadangan devisa nasional merosot menjadi 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri dari yang sebelumnya mencapai 6,3 bulan. Tekanan terhadap aset berdenominasi rupiah semakin diperparah oleh data defisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026 yang mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.