Aktivitas Manufaktur AS Juni 2026 Catat Ekspansi Enam Bulan Berturut

Share

Sektor manufaktur di Amerika Serikat kembali menunjukkan pertumbuhan yang konsisten sepanjang Juni 2026. Berdasarkan laporan terbaru, aktivitas pabrik di negara tersebut berhasil mempertahankan tren ekspansi selama enam bulan berturut-turut. Dilansir dari Bloombergtechnoz, pelonggaran tekanan biaya bahan baku menjadi pendorong utama kelanjutan pertumbuhan ini.

Sebelumnya, lonjakan harga sempat membebani industri akibat ketegangan geopolitik dan perang. Data teranyar menunjukkan indeks manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM) berada di angka 53,3. Meski mengalami penurunan tipis sebesar 0,7 poin dari bulan sebelumnya, posisi ini tetap mendekati rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Angka indeks di atas 50 menjadi indikator positif adanya pertumbuhan di sektor tersebut. Pencapaian ini sekaligus menegaskan periode ekspansi terpanjang bagi industri manufaktur Amerika Serikat sejak tahun 2022.

Dari aspek pengeluaran, laju kenaikan harga bahan baku bergerak jauh lebih lambat selama bulan lalu. Indeks harga ISM merosot tajam hingga 9,1 poin ke level 73, mencatatkan penurunan bulanan paling signifikan sejak Juli 2022. Penurunan biaya operasional ini terjadi setelah tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan diplomatis tersebut memicu kejatuhan harga minyak mentah di pasar global.

Kendati demikian, indeks biaya operasional saat ini dinilai masih berada di atas level awal tahun. Laporan resmi ISM mengindikasikan tekanan masih berlanjut akibat tingginya harga baja dan aluminium, penerapan tarif impor, serta konflik Timur Tengah. Di sisi lain, volume pesanan baru mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan namun posisinya terpantau tetap solid. Sementara itu, indeks produksi ISM justru melorot ke tingkat terendah dalam waktu setengah tahun terakhir.

Secara keseluruhan, terdapat 14 sektor industri manufaktur yang melaporkan pertumbuhan sepanjang Juni 2026. Beberapa di antaranya meliputi sektor percetakan, peralatan listrik, hingga industri tekstil. Sebaliknya, kontraksi bisnis melanda tiga sektor industri lainnya pada periode yang sama.

Industri yang mengalami penurunan performa tersebut adalah produk kertas, furnitur, serta produk kayu. Kuatnya investasi modal menjadi pilar utama penopang sektor manufaktur dalam beberapa bulan terakhir. Alokasi dana ini banyak diarahkan pada pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta pembiayaan sektor pertahanan.

Kondisi perang juga mendorong sejumlah korporasi untuk melakukan penimbunan produk. Langkah preventif ini secara langsung ikut mendongkrak tingkat permintaan komoditas dalam jangka pendek.

Walau aktivitas pabrik tumbuh, sentimen dan proyeksi dari para pelaku industri justru memperlihatkan kecenderungan pesimis. Mayoritas tanggapan operasional bernada negatif terhadap situasi pasar terkini. Ketua Komite Survei Bisnis Manufaktur ISM, Susan Spence, memaparkan bahwa hanya 34% komentar pelaku usaha yang bernada positif, sedangkan 66% sisanya memberikan respons negatif.

"Konflik di Iran memengaruhi harga di seluruh kategori bahan baku. Terutama untuk produk yang komponen perekatnya sangat bergantung pada minyak."

"Tekanan yang terus berlanjut akibat konflik di Timur Tengah membuat kami mengambil pendekatan yang lebih konservatif terhadap belanja modal."

"Biaya bahan baku tetap tinggi pada berbagai kategori utama, terutama akibat dampak konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian tarif yang masih berlangsung. Waktu tunggu dari pemasok juga semakin panjang, sehingga memengaruhi strategi persediaan dan keputusan pengadaan kami." "Kondisi usaha memang optimistis, tetapi belum benar-benar bergairah bagi perusahaan kami, meskipun tampaknya banyak perusahaan lain mengalami pertumbuhan.

Permintaan mesin untuk mendukung industri pertahanan dan manufaktur semikonduktor sangatkuat dan menjadi titik terang bagi tim kami. Namun, pelanggan dari sektor industri dan medis masih lambat melakukan pembelian karena lebih memilih unit rekondisi atau peningkatan mesin lama dibanding membeli yang baru."

"Tidak ada perubahan besar dibanding bulan lalu. Dengan kemungkinan berakhirnya perang Iran, manajemen memperkirakan harga akan kembali ke struktur harga Februari karena kenaikan harga minyak sebelumnya dipicu oleh perang, bukan oleh faktor pasar normal." "Meskipun pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan masih cukup tangguh, lajunya mulai melambat karena belanja konsumen melemah akibat tekanan kenaikan harga energi dan kebutuhan pokok. Hal ini mengurangi kepastian permintaan dan membuat pembeli semakin sensitif terhadap harga."

Di sisi lain, ekspansi manufaktur ini terpantau belum memberikan dampak positif yang masif pada pasar tenaga kerja. Indeks ketenagakerjaan ISM memang merangkak naik ke posisi 49,7 pada Juni 2026 yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2025. Namun, angka penyerapan kerja tersebut masih tertahan di bawah ambang batas 50.

Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah penyerapan tenaga kerja di sektor pabrikan masih berada dalam fase penyusutan. Sementara itu, laju pertumbuhan untuk pesanan yang belum terpenuhi menjadi yang paling lambat sepanjang tahun ini. Indikator pengiriman dari pihak pemasok juga memperlihatkan durasi waktu pengiriman yang kian memanjang.

Kendala pada rantai pasok serta kekhawatiran kenaikan harga di masa depan mendorong pabrik meningkatkan stok operasional. Indeks persediaan ISM akhirnya melonjak ke level tertinggi dalam setahun terakhir.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author