Polisi Menahan Pimpinan Ponpes di Bogor Terkait Kasus Pencabulan Santriwati

Share

Polres Metro Depok menahan pimpinan pondok pesantren Al Aimmatul Arbaah berinisial N alias Buya di Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (1/7/2026) setelah ditetapkan sebagai tersangka pencabulan terhadap santriwati.

Penetapan tersangka tersebut dilakukan pihak kepolisian setelah menerima laporan dari sejumlah korban yang mendatangi Polres Metro Depok, seperti dilansir dari Detikcom. Aksi pelecehan seksual di lingkungan pondok pesantren tempat Buya mengajar itu dilaporkan telah terjadi sejak tahun 2019.

Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa modus operandi yang digunakan pelaku untuk melancarkan aksi bejatnya adalah dengan berpura-pura mengobati korban menggunakan metode bekam. Peristiwa tersebut berawal pada November 2024 saat pelaku mengajari korban kitab kuning di teras rumah dan melarang korban kembali ke asrama karena kakinya kesemutan.

"Selanjutnya, N menawarkan untuk membekam bagian tubuh korban yang masih sakit akibat pernah terjatuh," ujar Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Hendra dalam keterangannya, Rabu (1/7/2026).

Korban yang merasa takut dan terkejut atas tindakan pelaku memilih untuk memendam kejadian tersebut sendiri. Hal ini dikarenakan pelaku merupakan sosok yang sangat dihormati di lingkungan pondok pesantren.

"(Korban) merasa takut dan terkejut atas perlakuan yang korban alami dari orang yang sangat korban hormati di Pondok Pesantren Al Aimmatul Arbaah," ucap AKP Hendra.

Penyelidikan kepolisian menunjukkan bahwa kasus ini juga diduga melibatkan anak kandung pelaku yang berinisial S. Hingga saat ini tercatat sudah ada tiga orang korban yang resmi membuat laporan polisi ke Polres Metro Depok sejak tanggal 9 Juni 2026.

"Belum, belum (tersangka). Masih saksi, tapi masih proses," ujar Kanit PPA Polres Metro Depok AKP Tamar Bekti.

Terduga pelaku lain berinisial S dilaporkan oleh korban berbeda atas dugaan pelecehan yang dilakukan sejak tahun 2024. Kabar mengenai tindakan asusila tersebut kemudian menyebar di antara sesama santriwati hingga para korban saling berbagi informasi mengenai pengalaman serupa.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author