Asal Usul Matcha Rupanya Berakar dari Tradisi China Kuno
Banyak masyarakat mengira matcha merupakan produk asli Jepang karena popularitasnya yang melekat erat dengan Negeri Sakura tersebut. Namun, bubuk teh hijau ini sebenarnya memiliki sejarah panjang di China sebelum akhirnya mendunia. Minuman ini kini menjadi menu favorit di berbagai kafe global berkat rasa yang khas dan khasiat kesehatan yang beragam.
Popularitasnya yang terus melonjak membuat konsumsi matcha kian meluas. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bubuk teh hijau ini lahir di China berabad-abad lebih awal daripada di Jepang, seperti dikutip dari South China Morning Post (18/6) via Detik Food.
Perjalanan komoditas ini dimulai berabad-abad silam di China. Pada masa Dinasti Tang yang berlangsung tahun 618 hingga 907, daun teh diolah dengan cara dikukus lalu dipadatkan menjadi balok agar mudah disimpan dan diperdagangkan.
Ketika hendak dikonsumsi, balok teh tersebut digiling hingga menjadi bubuk halus untuk kemudian direbus dalam air panas. Pada era ini, teh lebih sering difungsikan sebagai ramuan kesehatan dengan tambahan garam atau rempah.
Evolusi Modern pada Dinasti Song
Metode pengolahan mengalami perubahan signifikan saat memasuki era Dinasti Song pada tahun 960 sampai 1279. Daun teh melalui proses pengukusan, pengeringan, dan penggilingan hingga menghasilkan bubuk yang sangat halus.
Bubuk halus tersebut kemudian dimasukkan ke dalam mangkuk, disiram air panas, lalu dikocok sampai memunculkan busa yang lembut. Teknik pengocokan inilah yang dinilai para sejarawan sebagai awal mula matcha modern.
Budaya Kelas Atas dan Peralihan ke Jepang
Tradisi mengonsumsi matcha sempat menjadi bagian dari budaya kaum bangsawan dan ritual para biksu Buddha di China. Bahkan, muncul kompetisi membuat busa terbaik serta seni menghias permukaan teh yang menyerupai latte art masa kini.
Budaya ini kemudian menyebar ke Jepang setelah dibawa oleh seorang biksu Buddha. Di tempat baru tersebut, teknik pengolahan dan penyajian terus disempurnakan selama berabad-abad.
Sebaliknya, Dinasti Ming yang berkuasa tahun 1368 hingga 1644 menghentikan penggunaan teh padat dan beralih ke seduhan daun teh langsung. Kebijakan ini membuat tradisi matcha perlahan punah di China, sementara Jepang berhasil melestarikan dan memperkenalkannya ke kancah global.