Dokter Spesialis Ungkap Penyebab Peserta Hyrox Jakarta Alami Diare

Share

Seorang dokter spesialis kedokteran olahraga menjelaskan fenomena gangguan pencernaan pada kompetisi hybrid fitness racing Hyrox Jakarta yang digelar akhir Juni lalu, setelah media sosial ramai membahas dugaan adanya peserta yang mengalami diare saat perlombaan. Gangguan saluran pencernaan saat olahraga berintensitas tinggi tersebut dinilai sebagai hal yang lumrah dalam dunia olahraga ketahanan, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Rabu (1/7/2026). "Fenomena ini sudah lama terdokumentasi dalam literatur kedokteran olahraga.

Gejala saluran cerna saat olahraga intensitas tinggi dilaporkan terjadi pada 30–90% atlet endurance," kata dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp.ALK (K), Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga.

Andi menegaskan bahwa kondisi yang dikenal sebagai Exercise-Induced Gastrointestinal Syndrome (EIGS) atau runner's diarrhea ini bukan sebuah penyakit, melainkan sindrom respons fisiologis akibat olahraga berat.

"Istilah ini merujuk pada gangguan integritas dan fungsi saluran cerna yang umum menyertai olahraga berat," kata Andi. Berdasarkan survei terhadap pelari, sekitar 12% pernah kesulitan menahan buang air besar saat berolahraga, sementara prevalensi diare pada ajang ultra-endurance dapat mencapai 44% peserta yang dapat memengaruhi performa hingga pemulihan.

Kombinasi olahraga lari berulang dan latihan beban intensif dalam Hyrox memicu guncangan mekanis pada usus sekaligus meningkatkan tekanan di dalam rongga perut yang menekan sistem sfingter anus. Kondisi fisik berat ini juga memicu pengalihan aliran darah dari usus ke otot dan kulit, sehingga memicu iskemia relatif, peningkatan permeabilitas usus, serta gangguan motilitas saluran cerna.

"Jadi kombinasi faktor iskemik, mekanik, dan nutrisi merupakan tiga penyebab utama diare pada pelari maupun olahraga intensitas tinggi seperti Hyrox," ujar Andi. Guna meminimalkan risiko tersebut, atlet disarankan melakukan beberapa langkah pencegahan seperti menghindari makanan tinggi serat, lemak, protein, serta minuman karbohidrat yang terlalu pekat sebelum bertanding. Pencegahan lain meliputi pembatasan konsumsi makanan tinggi FODMAP, kafein, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), mengatur waktu makan besar, menjaga hidrasi optimal, melakukan gut training, serta merencanakan waktu ke toilet.

Pembahasan medis ini mengemuka setelah munculnya unggahan warganet mengenai dugaan seorang peserta Hyrox Jakarta yang mengalami diare di mesin dayung.

"Kemarin beritanya bau sandbag, sekarang ada yg cepirit di rower machine.. kocak lahh em," tulis akun coky*** di Threads, dikutip Selasa (30/6/2026). Meskipun menjadi bahan candaan di media sosial oleh sejumlah warganet, kondisi ini tetap dikategorikan sebagai fenomena medis nyata dalam olahraga dengan intensitas tinggi dan daya tahan ekstrem.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author