Niramas Utama Tetapkan Harga IPO Rp900 per Saham dan Pangkas Emisi
Struktur penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) PT Niramas Utama Tbk (JELI) kini telah terbentuk. Harga pelaksanaan final ditetapkan pada level bawah dari perkiraan awal, sementara jumlah emisi mengalami penurunan.
Produsen makanan dan minuman yang populer lewat merek Inaco ini menetapkan harga penawaran umum sebesar Rp900 per saham. Nilai ini berada di batas paling rendah dari kisaran bookbuilding sebelumnya, yaitu Rp900 hingga Rp1.120 per saham.
Selain menentukan harga di level terendah, perseroan memotong volume saham yang dilepas kepada publik. Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, pangkasan ini terlihat jelas jika dibandingkan dengan rencana awal korporasi.
Dalam prospektus awal, perusahaan merencanakan penawaran sebanyak 350 juta saham baru. Jumlah tersebut setara dengan maksimal 11,54% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah proses IPO.
Namun, dokumen prospektus final menunjukkan jumlah tersebut didegradasi menjadi 266 juta saham. Angka baru ini berkisar 8,92% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum terlaksana.
Melalui harga penawaran Rp900 per lembar dan kuantitas saham yang dilepas sebesar 266 juta unit, emiten ini berpotensi menghimpun dana segar sekitar Rp239,4 miliar.
Rencana alokasi dana hasil IPO sebesar 56,70% akan digunakan untuk memperkuat penyertaan modal pada anak usaha, PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS).
Suntikan modal tersebut bakal digunakan NPS untuk membiayai pembelian, pelunasan, hingga instalasi mesin produksi beserta alat pendukung. Langkah ini bertujuan menggenjot kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly untuk pasar domestik maupun ekspor.
Selanjutnya, sekitar 10,04% dari total dana IPO dialokasikan sebagai belanja modal perseroan. Biaya ini meliputi pembelian mesin produksi, peralatan, serta perlengkapan untuk memperbesar daya tampung gudang dan mempercepat proses logistik.
Sekitar 10,90% dana akan diarahkan untuk membereskan seluruh pokok utang jangka pendek. Kewajiban tersebut berupa fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK 2) kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan nilai Rp25 miliar.
Sisa dana sekitar 22,36% akan dimanfaatkan sebagai modal kerja perusahaan. Alokasi ini mencakup pengadaan bahan baku, pendanaan biaya operasional, serta pelaksanaan kegiatan pemasaran produk.
Manajemen perseroan memaparkan sejumlah faktor risiko yang wajib dicermati oleh para calon investor dalam prospektus mereka.
Pada aspek eksternal, pasar modal Indonesia dinilai mempunyai tingkat volatilitas yang cenderung tinggi apabila disandingkan dengan pasar negara maju.
Fluktuasi harga saham pasca-IPO dapat dipengaruhi banyak faktor. Sentimen pasar, kondisi makroekonomi, revisi regulasi, hingga dinamika politik dan ekonomi global menjadi faktor penentu pergerakan harga.
Perusahaan juga memberikan peringatan bahwa tercatatnya saham di Bursa Efek Indonesia tidak menjadi jaminan atas likuiditas perdagangan di pasar sekunder.
Ada potensi saham perseroan tidak diperdagangkan secara aktif di masa depan. Kondisi tersebut dapat mempersulit pemegang saham yang ingin menjual atau membeli saham kembali.
Dari sudut pandang fundamental, stabilitas kinerja usaha dapat terganggu oleh pergeseran harga bahan baku, fluktuasi kurs rupiah, perubahan selera konsumen, serta ketatnya kompetisi pada sektor makanan dan minuman olahan.