Memahami Bahasa Cinta Anak untuk Mempererat Hubungan Orang Tua

Share

Konsep bahasa cinta atau love language yang diciptakan oleh Gary Chapman, PhD, kini menjadi pilar penting dalam pola asuh. Mengenal bahasa cinta anak membantu orang tua memahami kebutuhan emosional terdalam mereka agar merasa cukup dicintai. Seperti dilansir dari HaiBunda, memahami metode ini membuat ekspresi kasih sayang tersampaikan secara lebih eksplisit dan langsung.

“Salah satu kebutuhan emosional terdalam seorang anak adalah kebutuhan untuk merasa dicintai oleh orang-orang penting dalam hidup mereka, biasanya orang tua mereka,” kata psikolog anak Dr.Nneka Ikeogu, dikutip dari BBC.

Menurut Ikeogu, orang tua sering berasumsi anak sudah tahu mereka dicintai, padahal mengungkapkan cinta dengan cara yang tepat sangat krusial. “Ketika Anda memahami ‘bahasa cinta’ orang lain dan Anda dapat menunjukkan cinta kepada mereka dengan cara itu, mereka jauh lebih mungkin menerimanya dan benar-benar merasakan ketulusannya,” ungkap Ikeogu.

Manfaat memahami bahasa cinta ini juga meluas hingga ke hubungan persahabatan serta interaksi sosial lainnya. "Bahasa cinta awalnya dikembangkan untuk hubungan romantis. Manfaat sebenarnya adalah membantu memperkuat hubungan yang Anda miliki dengan orang-orang penting dalam hidup Anda," kata Ikeogu.

Terdapat lima bentuk bahasa cinta yang dapat diidentifikasi oleh orang tua untuk memenuhi tangki emosional anak.

1. Sentuhan Fisik (Physical Touch)

Anak dengan bahasa cinta ini mengartikan pelukan, dekapan, atau kontak fisik lainnya sebagai bentuk nyata kasih sayang.

"Jika anak-anak terus-menerus berada di dekat Anda, menyentuh Anda, atau bermain dengan rambut Anda, itu adalah sinyal bahwa mereka perlu lebih banyak disentuh," kata Laura Markham, PhD, penulis buku Peaceful Parent, Happy Kids.

Aktivitas fisik seperti bermain bersama atau berolahraga juga efektif, namun orang tua wajib menghindari tindakan memukul karena bisa memicu trauma.

2. Menerima Hadiah (Receiving Gifts)

Bagi sebagian anak, menerima pemberian menjadi simbol pemberian perhatian dan rasa cinta yang nyata dari orang tua.

Mereka cenderung peduli pada detail pemberian, termasuk cara membungkusnya, serta mengingat pemberinya dalam waktu yang lama.

Hadiah tidak harus mahal, karena stiker apresiasi pun bermakna, namun orang tua tidak boleh memberikan hadiah tanpa syarat secara berlebihan.

3. Kata-Kata Afirmasi (Words of Affirmation)

Pujian, kalimat penuh kasih, dan umpan balik positif menjadi hal yang sangat dinantikan oleh anak jenis ini.

Pesan manis di kotak bekal atau gelang bertulisan penyemangat dapat memberikan dampak emosional yang besar bagi mereka.

Sebaliknya, ejekan atau makian saat orang tua emosional akan sangat melukai hati anak yang peka terhadap kata-kata.

4. Act of Service

Anak-anak kelompok ini sangat menghargai tindakan nyata yang penuh perhatian dari orang tua mereka.

Bentuknya bisa berupa bantuan mengikat tali sepatu, memperbaiki mainan rusak, atau membawakan makanan kesukaan mereka.

Meski demikian, orang tua harus tetap mendorong kemandirian anak seiring waktu agar mereka tidak terus-menerus bergantung.

5. Waktu Berkualitas (Quality Time)

Kebersamaan yang intim tanpa distraksi menjadi prioritas utama bagi anak dengan bahasa cinta waktu berkualitas.

Ungkapan seperti mengajak bermain merupakan sinyal bahwa mereka membutuhkan perhatian penuh dari orang tuanya.

Hukuman berupa isolasi atau mengurung di kamar menjadi hal yang sangat berat bagi anak dengan tipe ini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author