IHSG Ditutup Menguat Sesi I di Tengah Defisit Neraca Dagang Mei 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri Sesi I dengan kenaikan 0,84% ke level 5.690 pada Rabu (1/7/2026). Performa ini tercapai di tengah kabar defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar US$1,61 miliar per Mei 2026.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, pencapaian tersebut menghentikan tren surplus perdagangan yang sempat bertahan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Selain IHSG, indeks LQ45 juga menguat 0,91% ke posisi 558,11, sedangkan nilai tukar Rupiah melemah 0,38% ke Rp17.950/US$ pada pukul 12:40 WIB.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi hingga siang hari mencapai Rp5,87 triliun dengan volume 10,78 miliar saham. Aktivitas perdagangan ini bergulir lewat frekuensi transaksi sebanyak 891 ribu kali.
Pergerakan indeks sempat berfluktuasi hingga masuk ke zona merah sebelum akhirnya bangkit ke zona hijau. IHSG bergerak pada rentang level terendah 5.607 hingga menyentuh level tertinggi di posisi 5.728.
Secara keseluruhan, sebanyak 362 saham bergerak menguat, 249 saham mengalami penurunan, dan 165 saham lainnya tidak bergerak. Sektor barang baku, energi, dan infrastruktur menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan masing-masing 3,27%, 1,75%, dan 0,73%.
Beberapa saham LQ45 mencatatkan penguatan yang signifikan. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melesat 10,3%, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 10,1%, dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terapresiasi sebesar 7,04%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia per Mei 2026 mencatat defisit US$1,61 miliar. Angka ini mematahkan tren surplus berturut-turut selama 72 bulan.
Kondisi ini berada di luar ekspektasi para ekonom dan analis yang sebelumnya memproyeksikan adanya perbaikan. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memberikan penjelasan mengenai pemicu defisit tersebut.
Menurut Ateng Hartono, defisit sektor migas yang mencapai US$3,76 miliar menjadi penyebab utama, khususnya dipicu oleh impor hasil minyak dan minyak mentah. Impor total Indonesia naik 22,16% secara tahunan (yoy) menjadi US$24,81 miliar.
Pada periode yang sama, nilai ekspor nasional mengalami penurunan 5,73% menjadi US$23,2 miar. Realisasi ini menunjukkan perlambatan dibanding pertumbuhan ekspor yang sempat terjadi pada April 2026.
“Penurunan nilai ekspor pada Mei 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan nilai ekspor non-migas, yaitu pada beberapa komoditas. Ini terutama logam mulia, perhiasan, dan permata turun 59,35% dengan andil -2,93% terhadap kenaikan total ekspor,” kata Ateng.
Kenaikan Harga Bahan Bakar Mendorong Inflasi Juni
BPS juga mempublikasikan data inflasi untuk periode Juni 2026. Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,44% secara bulanan (mtm) atau mencapai 3,34% jika dihitung secara tahunan (yoy).
Pendorong utama inflasi ini disumbang oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, serta harga oli mesin. Ateng memaparkan bahwa sektor transportasi terdampak oleh kebijakan penyesuaian harga.
Kenaikan harga BBM non-subsidi tercatat terjadi dua kali, tepatnya pada tanggal 1 dan 10 Juni 2026. Sementara itu, tarif angkutan udara merangkak naik seiring tingginya permintaan pada masa liburan sekolah, di samping andil dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.